Gereja dan Zaman

 

Tulisan ini dibuat untuk memperingati sepuluh tahun berdirinya Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Pringwulung Yogyakarta.

 

 

Sepuluh tahun sudah Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Pringwulung berdiri dan mengabdi di tengah masyarakat. Sepuluh tahun bukanlah masa yang singkat, dalam perkembangannya tentulah gereja ini telah mewadahi Gereja dalam berbagai kegiatannya, yang bertujuan untuk memuliakan nama Allah di dunia ini, di hati para penyembah Allah. Dalam sepuluh tahun, pasti banyak suka duka yang dilalui gereja bersama dengan Gereja, bersama masyarakat.

Karena itu, menanggapi pertanyaan yang menjadi tema tulisan ini, “Usia 10 tahun, mau dibawa ke mana gereja kita ke depan?”, tentulah bukan hal yang mudah untuk dijawab. Jawaban atas pertanyaan itu dikembalikan lagi ke kita, kepada umat secara keseluruhan kolektif sekaligus juga pribadi-pribadi anak-anak Allah.

 

Mau dibawa ke mana gereja ini, Gereja ini? Menjadi tempat konser, konsumtivisme, dan glamorisme? Apakah motivasi umat gereja untuk mengikuti misa? Melihat penyanyi pujaannya, berbelanja makanan ataupun barang lain sehabis perayaan, atau apa?

Adakah yang ingin menjadikan gereja ini sebagai Gereja Kristus, sang anak tukang kayu?

 

Mau dibawa ke mana gereja ini, Gereja ini? Menjadi tempat canda ria, senda gurau, tempat gaul? Atau tempat untuk membanggakan diri, menunjukkan diri lebih hebat dari yang lain, unggul dalam suara, dalam ketenaran di gereja?

Adakah yang ingin bersukaria menemani Sang Kristus dalam Jalan Salib-Nya di Gereja ini?

 

Mau dibawa ke mana gereja ini, Gereja ini? Tempat membekunya Ritus Suci, Tradisi Suci dalam kebelakaan gerak dan suara yang membosankan rutinitas? Tempat terpenjaranya Kitab Suci dalam teks misa dan suara ketidakpedulian? Tempat mengerutnya Magisterium Gereja dalam kesombongan keawaman?

Adakah yang ingin menghidupi warisan iman Katolik dalam nafas hidupnya? Mengembangkannya dalam gerak kehidupan sehari-hari, sehingga kekatolikan tidak membeku di gedung yang dingin itu. Menghidupi iman Katolik, sehingga namanya tidak hanya Gedung Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Pringwulung, namun menjadi gereja yang hidup, gereja yang bernafas dalam gerak laku umatnya, menjadi Gereja Katolik, dalam keterikatannya dengan Gereja Universal, Gereja Katolik Roma, sekaligus dalam hidup dalam persentuhannya dengan budaya sekitarnya. Sehingga gereja tidak lagi hanyalah gedung batu yang dingin dan sunyi, namun sungguh menjadi Rumah Tuhan, menjadi rumah umat-Nya.

Usia sepuluh tahun suatu gereja, banyak hal yang telah terjadi, yang dapat dipelajari oleh para umat. Bagaimana menjadikan gereja ini merakyat, menebar kasih di dunia, di tanah ini, tidak hanya dalam “menara gading” umat Katolik, namun kepada seluruh insan manusia. Mewartakan kabar gembira dalam perilaku hidup umat sehari-hari, dalam pergumulan dengan seluruh bangsa Indonesia. Mewartakan Kabar Gembira dengan penuh kasih, Kabar yang telah diperjuangkan dengan taruhan nyawa oleh orang-orang hebat dan mulia, bahkan oleh Tuhan kita sendiri. Mewartakan Kabar Gembira tidak hanya saat Salam Damai dalam perayaan misa.

Mau dibawa ke mana gereja kita ke depan? Mau dibawa ke mana Gereja kita ke depan? Tentulah untuk menuju ke arah yang lebih baik, tentu saja. Namun tidak hanya begitu, tidak hanya dengan mudah berkata seperti itu. Bahtera Gereja (gereja) ini menjadi urusan semua pihak di sini, baik klerus maupun awam, tua maupun muda, semuanya berperan, semuanya bertanggung jawab. Gereja Katolik adalah suatu paguyuban orang-orang beriman, bukan hanya beragama. Kita semua diajak untuk membangun gereja kita, untuk mengembangkan Gereja kita.

Tentu saja yang paling penting dalam mengembangkan gereja maupun Gereja kita ini adalah pemahaman kita akan diri kita sendiri, akan iman kita sendiri, akan Warisan Iman Katolik. Tujuannya tidak lain adalah agar kita dapat menghidupi iman Katolik kita dengan arah yang benar, sesuai dengan Ajaran Iman Gereja namun sekaligus aktual dengan kehidupan kita sendiri di tanah ini.

 

Berkaitan dengan judulnya, kini zaman telah banyak berubah. Namun apa hasilnya sekarang ini? Lebih banyak kerusakan, kerusakan, dan pengrusakan. Manusia tidak lagi mengikuti hatinya mapun pikirannya. Manusia lebih tertarik pada kulit luar saja. Kini manusia patuh pada kelemahan-kelemahannya. Kelemahan dianggap kewajaran, kenormalan, bahkan gaya hidup. Tidak ada usaha untuk berkembang dan membuat diri lebih baik, tidak ada keinginan untuk mencari hakikat diri manusia.

Lalu pertanyaannya, apakah Gereja harus mengikuti perkembangan zaman? Tidak, zamanlah yang berjalan dalam terang Gereja. Zamanlah yang seharusnya menuruti iman. Agama, maupun iman, bukanlah suatu kekompromian yang harus menyerah. Tuhan tidak seharusnya menyerah pada kehendak kelemahan manusia.

Karena itu, ada baiknya untuk kembali kepada jalan yang benar, meskipun jalan ini tidak mulus, ini Jalan Salib, namun jalan ini sebenarnya jalan kekuatan. Jalan di mana kita kembali ke hati kita, tidak diperbudak materi. Jalan di mana kita kembali ke pikiran kita, tidak diperbudak arus zaman.

Karena itu, pentingnya kehidupan Gereja yang tidak hanya di gereja, namun juga di rumah, di mana pun kita berada. Kita adalah anak-anak Allah, kita yang dibaptis telah dimeteraikan oleh Allah, kita senantiasa membawa tanda Kristus, pesan Kristus. Janganlah kita mengabaikan Kristus dalam pengembaraan-Nya di kehidupan kita, janganlah kita mengurung-Nya dalam ritus keformalan kulit luar saja. Marilah kita bersama-sama bergerak, menjalankan Gereja ini. Marilah bersama mewujudkan Kerajaan Allah, seperti saat bibir kita berkumandang: “Datanglah Kerajaan-Mu.”

Dalam terang kasih Kristus, mari kita bersama-sama menanyakan ke diri kita sendiri, baik sebagai umat secara keseluruhan maupun sebagai pribadi beriman, “Apa yang dapat kulakukan, apa yang dapat kita lakukan untuk membuat Gereja hidup? Apa yang dapat membuat pengorbanan Kristus tidak sia-sia?”

 

Usia sepuluh tahun, mau dibawa ke mana gereja kita ke depan?

Usia sepuluh tahun, mau dibawa ke mana Gereja kita ke depan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s