Ironi Natal

“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Factum est autem cum essent ibi impleti sunt dies ut pareret et peperit filium suum primogenitum et pannis eum involvit et reclinavit eum in praesepio quia non erat eis locus in diversorio

 

 

  

 Sang Sabda yang lahir dari Bapa Kekal sebelum segala abad, menjelma menjadi daging. Inkarnasi-Nya dalam kerendahan manusiawi, Kristus lahir bukan di kenyamanan tempat tidur, bahkan tidak di kelayakan. Buaian-Nya palungan tempat makan hewan, selimut-Nya lampin sederhana, bahkan kamar-Nya pun goa kandang hewan. Bukan di kedamaian perumahan Ia lahir, di perjalanan yang berat. Yang Maha Tinggi dan Suci sudi turun ke dunia, tidak hanya di tempat yang rendah, namun juga di tempat terendah. Tempat yang seharusnya tak layak untuk seorang manusia. Begitu rendahnya Sang Maha Kuasa “merakyat” ke dunia kumuh ini.

Namun, kesederhanaan, “ketidaklayakan” ini tidak menjadikan-Nya kotor. Dalam kerendahan itu begitu damainya keadaan-Nya dan mereka yang bersama-Nya. Bala surgawi, ayah dan ibu tercinta, para majus, para gembala, semua begitu damai diliputi cahaya-Nya. Semua mengusir ketidakenakan dan bersujud menyembah Sang Kanak-Kanak Suci dengan tulus hati. Bukan karena ketampanan, bukan karena kekayaan, hanyalah penyembahan yang tulus dari hati. Dalam kesederhanaan itu mereka bersukaria, berbahagia karena Bayi itupun sudah mencukupi segalanya untuk kenyamanan mereka.

Semua bangsa diajak menyembah-Nya. Dari timur jauh datanglah para majus, dibimbing bintang-Nya yang gemerlap, cahaya surgawi pembimbing dunia ini. “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Mat. 2:2). Mereka yang dari jauh datang untuk merayakan Kelahiran Sang Penebus Dunia, betapa mereka meninggalkan kenyamanannya di tempat asal untuk menyusuri perjalanan, menempuh jarak jauh dan bahaya menghadang untuk melihat Terang Keselamatan Bangsa-Bangsa. Betapa mereka rela melepaskan keinginan pribadi mereka, menyerahkan perjalanan dan hidupnya bahkan hanya kepada tuntunan Ilahi? Dan lihatlah, betapa gembiranya mereka ketika sampai, ketika menemukan apa yang mereka cari. Begitu besarnya kelegaan mereka, begitu dalamnya kebahagiaan mereka. Merekalah para pencari, yang akhirnya menemukan apa yang mereka cari, yang akhirnya berbahagia dengan pencariannya. Betapa bahagianya mereka, dan betapa tulusnya pemberian mereka kepada-Nya. Betapa tulusnya mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur; persembahan bagi Raja, Tuhan, dan Penebus yang Menderita. Berbahagialah Gaspar, Melchior, dan Balthazar yang telah mendapatkan kelahiran Penebus Dunia, Penebus Bangsa-Bangsa.

Bahagia yang sama, yang menimpa perasaan para gembala Israel, mereka yang kedapatan tempat bagi peristiwa agung ini. Dengan senang mereka mempersembahkan tempat mereka, dengan bahagia mereka memberikan penjagaan-Nya, demi ketenangan tidur si Bayi yang Manis. Mereka yang bersukacita bersama dengan bala tentara surgawi, mengabarkan sukacita seluruh jagad, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Adoration, Gentile da FabrianoNatal adalah damai, Terang yang menyelimuti semua bangsa, Terang keselamatan jagad raya. Cahaya Ilahi yang datang untuk menyelimuti hati semua orang dengan kelegaan. Yang datang untuk mematahkan kuk kegelapan dan mengusir kuasa kejahatan. Yang datang untuk membimbing manusia ke dalam Sumber yang sejati, membawa kita ke jalan yang lurus. Terang inilah Terang Gembala Sejati, yang mengantarkan domba-domba-Nya ke rumput yang hijau, ke air yang tenang. Terang inilah Terang Guru Sejati, yang mengajarkan murid-murid-Nya ke pengetahuan yang benar lewat Cahaya-Nya yang pasti.

 

Namun apa yang terjadi kini? Kini, Natal tersilaukan oleh gemerlapnya konsumtivitas manusia. Begitu silaunya gereja oleh gemerlap pakaian rombeng manusia, oleh kilauan batu mulia manusia. Betapa di hari besar ini para umat menghias dirinya untuk memuaskan pandangan bagi pemuja ketampakan. Entah apa yang telah kita perbuat bagi gereja, penistaan keluhuran suci, atau kontes kecantikan dan gemerlap? Betapa kita bangga akan diri sendiri, betapa kita mengabaikan Dia Yang Tergantung Di Depan, yang kini kesepian karena penjarah-penjarah Gereja-Nya. Betapa sepinya ia yang, meski tak layak, bersama Sang Pemimpin turut mengepalai jalannya persembahan; betapa ia bagaikan berkata dan menjawab sendiri, karena bekunya Sabda, Tradisi, dan Ajaran dalam pengabaian kesombongan. Oh, begitu besarnya sudut deklinasi dagu manusia kini, yang merasa tak pantas kalau kepalanya menunduk melihat bumi ciptaan Allah ini.

Sepinya Keluarga Kudus menemani Putra mereka, sepinya mereka dalam kebahagiaan tulus mereka. Kebahagiaan yang tanpa syarat, tanpa perlu kado dan harta. Bukan kelimpahan yang Ia perlukan, hanyalah kedalaman. Tidak, bukan itu, Ia mendambakan persembahan-persembahan suci, persembahan hati bukan tangan. Ia mengajak kita yang bersama para sarjana majus dari jauh datang, mempersembahkan kemuliaan, kesucian, dan ketaatan.

Betapa banyak mereka yang ingin bersukaria bersama-Nya, merayakan kejayaan-Nya. Betapa mereka ingin bersukacita merayakan kelahiran-Nya, namun enggan menghayati kesederhanaan-Nya. Banyak orang ingin berjalan bersama-Nya, namun enggan mengikuti Sabda-Nya. Betapa banyaknya yang ingin ikut Perjamuan-Nya, namun tak sudi memikul Salib-Nya? Betapa banyaknya yang senang mendengar alunan kata-kata manis-Nya tentang surga, namun melempar batu dan meludahi-Nya ketika Ia meminta kita menyangkal diri kita sendiri dan mengikuti Jalan-Nya ke Golgota? Betapa banyaknya yang bersungut-sungut ketika Ia memperlihatkan dan membanting kita ke kenyataan borok kita?

Mengapa kita mengutuk-Nya saat Ia menjadikan perbantahan, ketika Ia menohok diri kita akan kebobrokan diri kita, padahal Ia melakukannya demi nyatanya pikiran hati kita sendiri? Mengapa kita tak sudi jiwa kita ditembusi pedang demi Nama-Nya? Mengapa kita hanya mau bila Ia membaptis dan mengurapi kita, namun menolak ikut menjadi kurban bersama-Nya? Mengapa kita mau untuk merayakan Kelahiran-Nya, namun menolak-Nya untuk lahir di tempat kita, di hati kita? Tidakkah kita ingin berbahagia layaknya Sang Perawan akan Kedatangan Tuhan, namun apakah kita berani, apakah kita mau untuk berkata “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah kepadaku menurut perkataan-Mu”?

Czechowicz - Poklon

Masih adakah yang ingat akan kesyahduan Natal, kegembiraan Natal yang sesungguhnya? Yang tersimpan dalam-dalam di hati, yang tidak terpoles kecantikan fana manusia? Natal yang sesungguhnya terjadi di sucinya kesunyian yang sederhana, di gemerlapnya hati karena Terang yang Ilahi, Allah yang Sejati sudi berendah diri untuk mengunjungi kita. Jangan-jangan justru di malam Natal Kristus kesepian mencari sahabat-sahabat-Nya.

“Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia.
Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya;
Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;
Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa”

3 thoughts on “Ironi Natal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s