Hanya Sekedar Ujian

Ujian merupakan suatu tahap, proses yang mengantarkan seorang murid kepada aplikasi atas semua yang telah didapatnya di perguruan. Kesuksesan melewati ujian menjadikan si murid siap untuk tak lagi menjadi murid, namun ia telah dapat disebut guru, dapat disebut sebagai seorang yang berilmu. Ujian membawa si murid kepada kepenuhan keilmuannya, untuk dapat dipergunakan dalam kehidupannya. Demikianlah ujian menjadi suatu “dunia kecil”, suatu permisalan dari dunia luar, di mana ujian berfungsi untuk melihat apakah murid tersebut telah sanggup untuk keluar dari gerbang perguruannya dan sekaligus mengantarkannya memasuki dunia luas.

Namun, kini yang terjadi merupakan pengkhianatan atas kemuliaaan tujuan ujian tersebut, pengkhianatan atas pencapaian proses pembelajaran, dan dengan demikian merupakan pengkhianatan atas tujuan pembelajaran itu sendiri. Pendidikan hanya dianggap sebagai syarat yang harus (dan wajib) dilalui untuk mendapatkan aktualisasi diri, untuk diterima masuk dalam kumpulan manusia-manusia yang “berkualifikasi”, dan ujung-ujungnya untuk dapat memperoleh kemakmuran materi. Maka, pendidikan pun dirasakan sebagai suatu proses yang harus dengan cepat diakhiri, karena ia hanyalah suatu anak tangga yang melelahkan yang sayangnya wajib dilewati, pendidikan tidaklah lagi diresapkan ataupun dirasakan.

Demikianlah pendidikan masa kini mengantarkan kita pada kepada pencapaian kuantitas, bukan kualitas; kepada hasil yang harus diutamakan dan bukanlah proses yang penting. Ditambah lagi dengan makin menanjaknya harga diri kemanusiaan, pencapaian kuantitas merupakan sesuatu yang diperlukan demi aktualisasi perguruan di mana ia berada, demi kelangsungan hidup perguruan tersebut, dan akhirnya demi kelangsungan kenyamanan materi yang akan didapat jika perguruannya akan tetap bertahan.

Demikianlah motif dapat mempengaruhi manusia untuk melakukan apapun. Apakah itu karena keinginan bertahan sebagai “yang terbaik”, ataukah juga karena kekesalan dan keputusasaan terhadap ketidakadilan pemerataan. Tak dapat dipungkiri, bahwa simplifikasi ujian yang berdasarkan “standar” yang baku, meskipun kebakuannya itu hanya berdasarkan standar-“ku” yang mutlak dan tinggi, membawa dampak yang demikian buruk. Bukan berarti standar itu buruk, standar memang diperlukan demi kemajuan bersama, namun standar yang tak melihat kenyataan sekitarnya itulah yang mengerikan.

Apalagi ditambah sistem penjawaban yang berlaku hitam putih; jika A benar maka B salah, padahal kadangkala A dan B itu hampir serupa. Bagaimana seorang harus berpikir dengan logika sederhana (“ya” dan “tidak”, “benar” dan “salah”) sementara persoalan yang diberikan merupakan hasil subyektivitas. Kesemuanya menambah terpuruk pendidikan kita yang makin terpuruk. Ketidakmauan kita untuk melihat semua kemungkinan, termasuk disebabkan karena ketidakmauan untuk sedikit “menyulitkan diri”, menghasilkan hal yang demikian parah.

Melihat fenomena guru yang memperbaiki jawaban ujian muridnya adalah melihat hasil dari keterpurukan sistem kita. Sistem yang sebenarnya baik namun tanpa kesadaran untuk menjalaninya dengan baik. Sistem yang tak semuanya (mau) melihat kemuliaan tujuannya, sama seperti tak semuanya melihat kemuliaan tujuan dari pembelajaran. Karena itu, janganlah mempermasalahkan siapa yang salah dan yang benar, namun marilah menumbuhkan kesadaran bagaimana kita harusnya mengaplikasikan sistem ini agar tujuan tertinggi dari pendidikan pun tercapai. Dan ini adalah tanggung jawab semuanya. Bukan hanya para guru maupun pemerintah yang bertanggung jawab dalam hal ini, namun juga para murid, marilah mengubah motivasi kita untuk belajar dan bersekolah.

Inilah saatnya untuk memperbaiki diri masing-masing, untuk melihat di luar diri kita dan berkarya sepenuhnya bagi pendidikan. Pendidikan bukanlah sesuatu yang semata-mata hanya harus (terpaksa) dilewati, pendidikan bukanlah suatu obyek yang dapat diperalat untuk memperoleh kemakmuran finansial yang lebih besar. Pendidikan seharusnya adalah suatu proses penting dalam hidup seorang manusia, suatu proses yang mengantarkannya pada kedewasaan dan kematangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s