Bosan Ekaristi

 Ekaristi adalah puncak iman Katolik. Ekaristi merupakan perjumpaan Tuhan dengan umat-Nya, ketika Ia hadir dan menguatkan mereka lewat Tubuh dan Darah-Nya yang kudus. Demikianlah Ekaristi menjadi lebih dari sekedar ibadat, devosi, atau “kebaktian”. Dalam Ekaristi, setiap tahap merupakan suatu proses yang memiliki makna dan pengertiannya sendiri, suatu proses yang mengantarkan kita pada kehadiran Tuhan.

Namun, tak dapat dipungkiri jika Ekaristi telah menjadi semacam rutinitas yang membosankan. Ekaristi hanyalah menjadi suatu kewajiban umat beriman, dan bahkan kini terasa makin menjadi kewajiban yang mengikat dan bermakna kosong. Inilah hasilnya dari “pemudahan”, simplifikasi atas keakbaran Perayaan Ekaristi. Ketika Ekaristi hanya membeku dalam teks misa dan halaman-halaman buku perayaan. Ketika Ekaristi tak lebih dari sekedar pertunjukan, di mana para penampil di depan disaksikan dan dikritisi oleh para penonton yang mengkritisi tanpa mau memahami.

Betapa Liturgi Sabda kini berarti menjadi beku di dalam teks misa, ketika makna pewartaan Gereja dari atas ambo “dimeriahkan” oleh kresek-kresek para penonton membolak-balik halaman teks miliknya sendiri. Betapa pemazmuran Sabda Allah menjadi garing oleh kritisisasi atas teknik bernyanyi, ketika pemazmuran juga “dimeriahkan” oleh pengajaran dan “peneladanan” mengenai teknik bernyanyi oleh penonton-penonton yang “berkualifikasi”. Betapa homili yang katanya itu-itu saja dan membosankan menjadi tidak tersampaikan kepada telinga para penonton yang menolaknya, ketika sang penonton rupanya juga tidak menyadari bahwa kesalahan dan keterpurukan kita juga itu-itu saja dan monoton.

Betapa Liturgi Ekaristi juga menjadi hampa tanpa kesadaran dan pemahaman akan Transsubstansiasi, ketika sebagian besar tidak lagi memahaminya dan mengakuinya. Betapa penerimaan Tubuh hanyalah menjadi prosesi kehampaan menuju ketidaktahuan. Demikianlah Ekaristi yang kehilangan maknanya, yang tak lagi dipahami dan disemangati, dan hanya ditinggalkan ketika di seberang sana ada yang lebih “meriah”, padahal kita juga tak tahu apakah itu sejati keakbaran atau hanyalah sebuah “kegaduhan” semata.

Di masa-masa kritis inilah muncul keinginan untuk memberontak, untuk mengaplikasikan “kemeriahan” diseberang untuk menggantikan kesyahduan miliknya sendiri. Untuk mengganti apa yang telah ditetapkan oleh Kitab Suci, dipelihara oleh Tradisi Suci, dan dijaga oleh Magisterium. Untuk mengubah sesuatu yang membosankan dan terasa kering dalam keterkinian zaman yang tak tentu arah ini. Untuk menjadikan Ekaristi menjadi suatu yang lebih membumi dan memuda, sehingga semangat kamu muda untuk mengikuti Ekaristi menyamai semangat mereka untuk menonton konser pop, karena esensinya pun sama.

Demikianlah Ekaristi yang dipandang sebagai perpanjangan tangan dari konser musik, Ekaristi yang dipandang sebagai perpanjangan tangan dari pertunjukan drama, sehingga Ekaristi pun dipandang sebagai suatu kewajiban yang harus dibentuk sedemikian rupa sehingga menyenangkan dan tidak melelahkan. Inilah akibat dari ketidakpahaman dan mungkin juga ketidakmauan kita untuk memahami Ekaristi karena dianggap sebagai suatu gema kering dari masa lalu yang jauh. Suatu gema kering dari Vatikan yang terhimpit modernisasi.

Ketika Ekaristi menjadi kering karena ketidakmampuan kita untuk menerimanya, akankah kita pergi berlari atau bahkan mengubahnya menjadi yang sesuai dengan mood kita? Ini adalah sikap seorang pelari, sikap yang tidak mau menerima kekurangan dirinya sendiri. Misalnya ketika kita menghadapi sesuatu yang sulit, mana yang kita pilih, beralih ke yang lebih mudah, atau bahkan memanipulasi persoalan kita agar menjadi lebih mudah? Maukah kita berusaha memahami dan menjalani sesuatu yang sulit itu. Memang bukan hal yang mudah, sama seperti mudahnya seorang menanggung kesalahan orang lain dan memanggul salib demi dia. Suatu usaha yang sulit untuk menerima kekurangan diri sendiri, terlebih di masa kini, ketika kita dininabobokan perasaan sebagai penentu arah dunia tanpa menyadari konsekuensinya. Demikianlah yang menyebabkan kita menjadi penuntut.

Memang, tak dapat dipungkiri, hal-hal demikian juga disebabkan oleh kesenjangan antara yang religius dan yang awam, antara petinggi dan umat. Maka ini menjadi tugas bagi para petinggi Gereja, khususnya Seksi Liturgi, untuk kembali menerangkan dan menyebarkan pengetahuan mengenai Ekaristi yang sesungguhnya dan apa sesungguhnya Ekaristi itu. Untuk kembali berkarya demi kemajuan Perayaan Ekaristi. Juga untuk kembali menginovasi Ekaristi, bagaimana menjadikan Perayaan Ekaristi menjadi perayaan yang dekat di hati umat beriman, tentu saja tanpa meninggalkan makna sejatinya Ekaristi itu sendiri. Dalam sejarah perjalanan Gereja, inkulturasi selalu ada, dan kini tugas kita untuk mengadakan inkulturasi sebagai suatu yang sebenarnya berjalan seirama dengan denyut Ekaristi itu sendiri.

Perayaan Ekaristi yang lebih bersemangat, yang lebih meresap di dalam hati. Bukan sekedar meriah, karena bukankah sebenarnya Perayaan Ekaristi itu sendiri adalah perayaan meriah, perayaan sukacita. Kemeriahan Ekaristi adalah kemeriahan bala tentara surga yang melagukan Gloria, kemeriahan Ekaristi adalah kemeriahan semua orang Kristen (Katolik, dalam persatuan dengan Uskup Roma). Perayaan Ekaristi yang kini telah kehilangan jiwanya, marilah kita upayakan untuk mengembalikan jiwa dan semangat yang hilang itu, bukan dengan sistem pelarian kita yang hanya mau melihat hal yang “enak” saja tanpa mau menerima salib, padahal salib hanyalah merupakan suatu ke-“enak”-an yang dilihat dari sisi yang lain.

Demikianlah tugas kita semua, untuk meneliti batin kita, untuk mencari dalam hati kita semangat untuk kembali menghidupkan Ekaristi yang kini kembangkempis dan timpang. Dan tugas yang lebih besar lagi bagi Seksi Liturgi untuk menyelamatkannya dari ambang kesekaratan. Marilah kita memahami terlebih dahulu apakah kesejatian dari Ekaristi itu, dan barulah mencoba menginovasinya dengan semangat kita yang besar ini. Dengan demikian kita tak jatuh untuk mengaplikasikan Ekaristi menjadi tak lebih dari sekedar pertunjukan pop semata.

Dengan demikian Seksi Liturgi menjadi pion kunci dalam usaha penyelamatan Perayaan Ekaristi ini. Untuk menyampaikannya kepada umat, untuk mewartakannya, dan kemudian untuk menerima permintaan dari umat untuk mengadakan inkulturasi. Juga untuk mengkomunikasikan dan mengoreksikan inkulturasi ini kepada Otoritas dan semua umat. Sehingga kini tugas Seksi Liturgi bukanlah seperti yang dikatakan, hanya sekadar mengetik teks misa dan mengatur tugas wialyah. Kini Seksi Liturgi berperan menyelenggarakan Liturgi yang benar dan sekaligus juga dekat di hati umat karena umat memahami apa yang ia lakukan sepanjang Perayaan Ekaristi.

Kini, pertanyaan bagi kita semua, apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan ikut berjuang dalam perjuangan menegakkan kembali martabat Ekaristi di hati umat beriman? Akankah kita ikut kembali memaknai Perayaan Ekaristi dalam hati kita dan melakukannya karena kita memang melakukannya, bukan karena kita wajib melakukannya? Ataukah malah kita pergi meninggalkan Gereja yang kita anggap tidak “fun” dan tidak “gaul” ini?

Bukankah di tahun 2007 ini Bapa kita Benediktus XVI malahan mempopulerkan kembali penggunaan bahasa Latin dalam misa-misa dan bahkan juga praktek Misa Tridentine yang akan terasa makin “kuno”? Dan demikianlah, Ekaristi adalah perayaan segala zaman, tak ada yang kuno di dalam Perayaan Ekaristi, tak ada yang sesunguhnya tak sesuai dengan jiwa kita. Hanya saja kita tidak mampu melihat Ekaristi yang sesungguhnya, bahwa perayaan ini merupakan perayaan yang membumi, perayaan yang justru berjiwa muda dan bersemangat. Hanya saja kita yang tidak mampu (atau tidak mau) menerimanya.

2 thoughts on “Bosan Ekaristi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s