Begitu Gelapnya Harapan Itu

Begitu sedihnya, Batman, begitu pedihnya. Begitukah, Batman? Segala yang telah kau lakukan, segala yang telah kau berikan, semuanya hilang. Semuanya hilang, lenyap, kembali ke asal, dan bahkan lebih buruk. Lebih buruk, tidak hanya berhenti di titik nol, namun meluncur terus turun tak berhingga melampaui kerasnya kekosongan, karena semua energi positifmu kini akan berputar balik, menghujam memeluk semua kenegatifan.

Ya, begitu jauhnya kau jatuh, melayang bebas dari puncak kegemilanganmu hingga terpuruk pada sudut kebencian mereka. Kebencian dari mereka yang telah kau selamatkan, melebihi apa yang dapat kau berikan. Karena Gotham tak lagi membutuhkanmu, Gotham tak memerlukan orang aneh bertopeng yang menggelapkan malam-malam mereka. Karena mereka lelah melihat ke dalam isi topengmu, apakah itu kebaikan atau kekelaman.



Siapa yang membutuhkan penjaga malam yang mengganggu? Ketika kegelapan malam memberikan kesempatan untuk melakukan apapun, kau mengubahnya menjadi keresahan. Kau mengubah malam menjadi tempat di mana kedalaman hati tersibakkan, kau membuat malam bahkan menjadi lebih terang daripada tengah hari.

Dan inilah titik balikmu, Batman. Kau dipermainkan oleh Joker. Joker, musuh terbesarmu, personifikasi irasional yang merepresentasikan kebalikan dari apapun dirimu. Joker telah mempermainkanmu, tidakkah kau lihat, wahai Detektif? Tidakkah itu bisa kau duga, wahai Batman yang biasanya selalu mengetahui apapun? Mengapa, Batman, apakah karena kau telah lelah, dan menjatuhkan kepercayaanmu pada kelelahanmu?


“What were you trying to prove? That deep down, everyone’s as ugly as you are?”


Itu yang kau katakan pada Joker. Kau percaya bahwa di dasar hatinya, tiap orang memiliki kebaikan, dan itulah penopang dirimu. Itulah dasar adanya engkau, bukan, Batman? Karena dalam diri setiap orang ada harapan untuk dipegang, dan selama harapan itu tidak hilang, maka Batman juga tidak akan pernah beristirahat. Batman akan selalu muncul, berkelebat di malam-malam sepi Gotham, menangkap harapan-harapan yang melayang dan menempatkannya kembali dalam amannya hati manusia, menunggu pagi datang menyambut merekahnya harapan untuk esok yang lebih baik.

Itu yang engkau percayai. Dan itu juga yang membuatmu menjatuhkan harapan pada ksatria Gotham, Harvey Dent yang bersinar gemilang di atas kuda putihnya, menyeret di belakangnya para penjahat Gotham yang mengakarkan kebencian terbesarnya pada kematian sang pahlawan. Tak terhingga besarnya hasrat mereka untuk membasmi Dent. Untuk menghilangkan Dent dari keberadaan sehingga mereka dapat lagi berjaya mengotori jalanan.



Namun apa yang dilakukan Joker lebih dari itu semua. Tidak berhenti pada pembasmian Dent, Joker memutarbalikkan keadaan dengan membawa Dent pada sisi kanannya sendiri. Inilah pilihan yang bahkan lebih buruk dari pilihan terburuk yang ada. Joker mengubah pangeran berkuda putih menjadi mimpi buruk terkelam Gotham. Joker menampilkan sisi kelam Dent, mengubah Harvey Dent menjadi Two Face, yang kini terperangkap dalam dualitas dirinya. Dent terjatuh dari kegemilangan tertinggi kepada kebusukan terkelam. Itu yang dilakukan Joker, Batman.

Itu yang dilakukannya kepada Gotham, dan terutama kepadamu. Ia membuatmu menelan apa yang telah kau tabur kepada para penjahat. Kau tahu itu, Batman, kau tahu hari ini akan datang. Hari di mana kau menghadapi konsekuensinya, konsekuensi dari apa yang kau lakukan selama ini. Hari di mana kau dipaksa menelan perkataan Joker tadi, ketika harapan tak bisa lagi dipegang, dan dasar keyakinanmu menghilang bersama dengan penopang keberadaanmu.



Selama ini kau mempermainkan ketakutan para penjahat Gotham. Kau menyerap ketakutan mereka menjadi kekuatanmu. Kau menyelinap di malam gelap, menggunakan kesunyian untuk menyibakkan kepengecutan mereka. Kau tahu apa yang kau hadapi, juga apa konsekuensinya, apa yang akan kau hadapi nanti. Ketika semua orang telah terbuka, dan muncul pertanyaan mengenai kebenaranmu. Apakah kebenaranmu, Batman? Apa yang kau gunakan untuk bergerak di atas hukum?


“Because sometimes, truth isn’t good enough. Sometimes people deserve more. Sometimes, people deserve to have their faith rewarded.”


Ya, benar. Itu yang selama ini kau percaya. Bahwa kebenaran tidak selalu cukup, karena tidak semua orang akan tetap memiliki harapan ketika kebenaran itu begitu pahit. Karena ada yang akan menyerah ketika dikecewakan kebenaran. Dan karena itu, kini kau harus memberikan bukti. Inilah tuntutan yang terberat, dan inilah yang akan membuktikan kepercayaan kepada manusia. Maukah kau menelan kepahitan ini demi kepercayaanmu sendiri kepada kebaikan? Kepada kebenaran, yang bahkan telah kau hianati?

Karena kau pun telah bergerak di atas kebenaran. Kau bukanlah Clark Kent, si Anak Pramuka, yang tak pernah mengenali pahit kelamnya kebenaran. Karena bagimu, kebenaran tidak menampakkan batas hitam putihnya, di hadapanmu kebenaran melayang dalam lemah keabu-abuannya. Begitu seringnya kau mempermainkan kebenaran, begitu seringnya kau melayang melampauinya dan membentuknya demi apa yang kau perlukan. Dan kini kau menghadapinya, kebenaran mempermainkanmu, meninggalkanmu dalam satu jalan menuju kehancuran.



Itukah pengorbananmu, seperti yang selama ini kau lakukan? Seperti kau membunuh Bruce Wayne untuk membangkitkan Batman, dan menggunakan namanya sebagai kedokmu. Kini kau harus membunuh dirimu sendiri, menyerahkan dirimu untuk disalibkan demi Gotham, kau harus menempuh jalan kehancuran ini. Menembus masuk kekelaman, untuk merasakan busuknya keburukan. Karena hanya inilah caranya, inilah jalan yang harus kau tempuh untuk kejayaan. Dan dengan ini, kau akan menjadi kuat, kau akan lahir kembali untuk mengembalikan apa yang telah kau ambil, untuk mendapatkan apa yang telah diambil darimu.




Selamat jalan, Batman, sang Detektif, sang Ksatria Kegelapan…

Hingga tiba saatnya kami berjumpa lagi denganmu…

“…the hero Gotham deserves, but not the one it needs right now. …a silent guardian, a watchful protector. A dark knight.”





Batman (Bruce Wayne), Joker, dan Two Face (Harvey Dent) adalah karakter komik rekaan milik DC Comics, dan penggambaran cerita dalam tulisan ini berdasarkan film The Dark Knight ciptaan Cristopher Nolan (Warner Bros. Pictures: 2008), yang karakternya didasarkan pada karakter komik yang sama. Clark Kent juga merupakan karakter komik rekaan milik DC Comics.

19 thoughts on “Begitu Gelapnya Harapan Itu

  1. dasar melankolis…. iya deh… gw percaya ni semua tulisan lo sendiri… hm.. hm… oke juga… pernah menyadari gk untuk siapa tulisan ini dibuat? untuk menyadarkan diri sendirikah? selain untuk menyadarkan orang lain tentang diri mereka masing-masing yang selalu berada dalam wilayah abu-abu???

    • @ Lefo
      Hmm.. untuk siapa yah… Yang pasti untuk Batmanlah, yang pertama. Yang lainnya, mungkin untuk Dunia, untuk tujuan yang lo singgung. Menyadari bahwa kadangkala kebenaran tidak sesimpel itu. Ada daerah abu-abu yang menjadikan kita manusia…

  2. Menurut gw???
    Lo melankolis yg lagi mengingatkan diri sendiri… Tapi peringatan itu juga menyentuh batas2 kemanusiaan orang lain… Menyentuh hati dan jiwa manusia yg tertidur di wilayah abu2, yg berharap bisa menjadi hitam sepenuhnya atau putih sepenuhnya… manusia gk bisa sepenuhnya menjadi jelas kan? Semua yg ada di diri manusia itu selamanya gk akan pernah jelas…

    • @ Lefo
      Iya sih… Tapi bukannya keabu-abuan yang memanusiakan kita? Kita gak cuma bisa bicara “ya” dan “tidak”, dan kosakata kita melebihi dua kata itu. Karena pemahaman kita pun gak akan pernah berkualifikasi untuk mengeluarkan “ya” dan “tidak” yang mutlak.

  3. Lo mau tau apa komentar temen2 gw waktu gk sengaja baca blog lo???
    Cius ni melankolis ya Gan?
    He… bahkan mereka pun tau…
    Jawaban lo tu efek logika fuzzy yg lo pelajarin tu ya?? Yg bikin gw fuzzyng 7 keliling tu kan??

    • @ Lefo
      Hmm hmm… Salahnya lo bacanya sambil keliling2, baca mah diem aja lagi… Logika Fuzzy, Logika kabur, Logika samar…
      Lagian juga emang temen2 lo tu bener2 gak sengaja baca blog ini???

      • Iya sih… Tapi bukannya keabu-abuan yang memanusiakan kita? Kita gak cuma bisa bicara “ya” dan “tidak”, dan kosakata kita melebihi dua kata itu. Karena pemahaman kita pun gak akan pernah berkualifikasi untuk mengeluarkan “ya” dan “tidak” yang mutlak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s