Demi Mereka yang Menolak

“Do you need everyone to like you? Everybody?”

Elizabeth Sherman

(Hellboy 2: The Golden Army)

Kesepian, menderita, dan disingkirkan. Setidaknya mungkin itulah yang tercurah di benak Anung un Rama (lebih dikenal di dunia ini dengan Hellboy), di saat dunia menumpahkan kemarahan padanya. Ya, Hellboy, si “bocah neraka” dapat juga mengalami kepedihan. Ketika apa yang ia lakukan tak diterima, ketika apa yang ia perbuat ditolak, maka terdamparlah ia ke sudut kegelapan dunia, tempat mereka yang tercampakkan dan dibuang, tak peduli apa yang telah dilakukan, baik maupun buruk.

Sungguh, betapa sepinya kepedihan mereka yang tercampakkan. Mereka yang oleh karena keadaannya, baik itu disengaja maupun tidak, ditolak dan dibuang oleh kegemerlapan dunia. Mereka yang tidak diterima hanya karena begitu berbeda, hanya karena tidak begitu “gemerlap” seperti orang lain. Dan sungguh, betapa pedihnya ketercampakkan yang begitu sepi ini. Ketercampakkan yang menghancurkan segala perbuatan dan harapan yang telah terbentuk indah. Ketercampakkan yang sungguh menghancurkan.

“I mean… I killed that thing, for what?

No one likes me, and they’re afraid of me.

What do we do with that?”

(Hellboy)

Ya, untuk apa? Untuk apa membunuh makhluk itu, yang mengancam manusia? Apakah demi manusia itu sendiri? Demi manusia yang bahkan menolaknya, karena tidakkah mereka sendiri yang berkata bahwa manusia tidak memerlukan bantuan darinya?

Demi kepentingan siapa darah makhluk itu tertumpah sia-sia? Makhluk itu, makhluk yang terakhir dari jenisnya, sama seperti Hellboy sendiri. Jelas, dengan matinya makhluk itu, maka punah jugalah harapan dunia untuk melihat jenisnya kembali, jika harapan seperti itu memang ada.

Dan adakah harapan seperti itu? Harapan untuk berbagi, harapan untuk hidup bersama dengan mereka yang berbeda. Masihkan manusia memiliki hati untuk melihat ke sekelilingnya?

“…the humans have forgotten us, destroy the earth, then for what?

…Greed had burned a hole in their hearts, They will NEVER be filled, they will NEVER have enough.”

Pangeran Nuada

Mungkin Nuada menjadi tokoh antagonisnya. Ya, karena ia merusak perjanjian damai antara manusia dan para makhluk gaib, diketuai oleh Raja Balor, raja Elfland, ayah Nuada. Perjanjian yang membagi kekuasaan atas bumi, untuk menghalangi manusia menguasai dunia bagi dirinya sendiri. Perjanjian yang mencegah dominasi manusia atas alam.

Namun demikian, masih relevankah perjanjian damai itu? Di mana hutan-hutan, yang menjadi hak-hak para makhluk gaib? Tidakkah hutan-hutan telah terdesak oleh dominasi manusia? Di manakah lagi, kalau begitu, tempat bagi mereka yang “bukan manusia”?

Di bawah tanah, tempat yang tak terlihat manusia, atau bisa juga di atas tanah, dengan beberapa penyamaran agar terlihat mirip manusia. Begitukah? Tempat-tempat tersembunyi, jurang kesepian bagi mereka yang berbeda. Tempat pembuangan mereka yang tersingkirkan. Atau di kandang buatan manusia, yang “lebih aman dan terjamin”.

Aman dari apa? Atau lebih tepatnya, aman dari siapa? Apakah aman dari makhluk sombong dan tamak yang tak mau berbagi, yang merasa ia harus diutamakan di atas kepentingan semua ciptaan yang “lebih rendah tingkatannya” dari dirinya sendiri? Mungkin satu-satunya yang harus ditakuti alam adalah ras dengan lubang di hatinya, yang terkotorkan oleh ketamakannya yang tak terbatas dan tak akan pernah terpuaskan. Itukah manusia?

“But man has been created with a hole in his heart.

A hole, that no possession, power or knowledge could fill.”

(Prof. Broome, membacakan cerita kepada Hellboy kecil)

Ya, itukah Manusia?

Hellboy, dan karakter lainnya serta transkrip film yang disebutkan dalam tulisan ini merupakan karakter dalam film Hellboy2: The Golden Army (Universal Pictures: 2008). Hak cipta dilindungi undang-undang.

5 thoughts on “Demi Mereka yang Menolak

  1. Sayangnya, barangkali, jika lubang itu ditiadakan pun, dia tak lagi bisa disebut sebagai hati.

    Selain tak ada gading yang tak retak, ternyata tak ada pula hati yang tak bolong ya…

    Salam. (Mohon izin komen perdana Bapak, saya taruh sbg comment of the week. Heheh, pengumuman ga penting)

    • @ Toga Nainggolan
      Salam,

      Karena pula barangkali kita memang perlu diberi lubang. Hati yang sempurna bukanlah hati yang bebas dari lubang, namun hati yang memahami adanya lubang dan belajar darinya..

      Toh tak ada gading yang tak retak mungkin karena tak ada gading yang tak dipakai, dan apakah tak ada hati yang tak berlubang karena juga kita senantiasa memakai hati? Dan makin sering kita memakai hati selayaknya pula semakin paham kita belajar bagaimana bersahabat dengan lubang2 kita..

      (Wahh wahh.. Tak perlu repot-repot meminta izin ko Pak.. Kehormatannya ada pada saya, terimakasih.. Yakin beneran ni Pak tu dijadiin comment of the week? hehe)

  2. uih, nonton hellboy sambil merasakan adanya keheningan yg menyeruak, set dah, … anda keren bgt kayanya huhuhuhuhu

    salam kenal! manis sekali cara pandangnya! pass me the spritis and optimism will ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s