H.E.N.A

Bersama-sama kita belajar meninggi di atas kita menuju diri kita sendiri dan tersenyum tanpa dihalangi awan – tersenyum ke bawah tanpa terhalang awan, dari mata-mata cerah dan dari bermil-mil jauhnya ketika di bawah kita dorongan dan tekad dan rasa bersalah bercucuran bagaikan hujan.

Zarathustra
(Nietzche, dalam Zarathustra)

Mungkin sudah banyak yang sering denger tentang Hena. Bukan, bukan bahan dasar untuk rajah tangan. Bukan juga High-Energy Neutral Atom, Higher Education and National Affairs, atau Hawaii Emergency Nurses Association. Apalagi definisi gak jelas dari sini.

Bukan, bukan itu. Ini Hena yang lebih sedikit diketahui orang. Istilah yang muncul pada sekitar 2004 di sebuah sekolah terpencil nan megah (yang bakalan membenarkan pepatah “Don’t Judge a Book By It’s Cover”). Sebuah istilah yang “didedikasikan” untuk mereka-mereka yang berkelakuan berbeda dengan yang lainnya.

Hena, istilah yang baru ini, awalnya berasal dari suatu bahasa tak resmi yang terkenal. Bahasa ini, dikenal dengan Bahasa Balikan, merupakan varian derivatif dari Bahasa Indonesia. Semua kosa kata dari bahasa ini juga diambil dari Bahasa Indonesia, dengan sedikit modifikasi berupa pembalikkan karakter dari kata yang bersangkutan. Jadi, “kata” menjadi “atak”, “menjadi” menjadi “idajnem”, dan seperti itulah. Sudah bisa ditebak apa makna dari Hena, kan? Ya, Hena artinya aneh.

String input, output;
n = input.length();
for (int i = 0; i < n; i++)
{
 output += input.CharAt(n-i);
}

Aneh, aneh, aneh. Aneh. Semua makhluk yang dilabelkan dengan Hena semuanya membawa predikat aneh di dirinya. Gerak-geriknya aneh. Perilakunya aneh. Dan buat beberapa, mukanya juga aneh. (Kalo yang itu mah pastinya bukan saya). Tapi tentunya Hena beda dengan aneh. Meskipun pada awal pembentukannya hena memiliki definisi yang sama dengan aneh, namun dalam perkembangannya oknum-oknum yang terlibat dalam hena memunculkan definisi mereka sendiri tentang apa itu Hena. Di sinilah terjadinya perubahan dari hena menjadi Hena.

“Hena adalah Hena”, menurut Hardy. Susah dipahami, karena Henas (Henas artinya ‘orang yang Hena’-red) bisa disimpulkan sebagai orang-orang yang memandang hidup dengan cara yang berbeda. Sejalan dengan itu, menurut definisinya Ganis sih Henas adalah orang-orang yang memaknai hidup dengan cara yang sangat manis, yang menyayangi orang dengan kasih sayang yang gak bisa dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Aneh, kan? Ya iyalah, kan Hena itu aneh.

Terlihat serius? Hmm, itu belum seberapa. Kita belum lihat makna yang dirumuskan oleh Chopi: Hena itu lucu dan bisa membuat senang. Hena membuat kita berani untuk menghadapi situasi dan mengambil keputusan. Hena akan mengajarkan arti kebersamaan dan persahabatan yang sesungguhnya, karena Henas adalah orang-orang yang punya kelebihan masing-masing dalam pikiran dan perasaan, dan karena ini, Hena akan membuat kita tidak pernah sendiri dalam melangkah.

Agak terlalu jauh sih, memang. Dan jelas itu luas banget. Tapi itulah yang tertanam di diri para pelaku Hena. Karena Hena sejatinya adalah sesuatu yang wajar untuk dialami dan dilakukan manusia. Hena bukanlah perilaku alien yang diungsikan ke bumi waktu planetnya hancur. Juga bukan efek mutasi karena terkena hasil eksperimen yang kabur. Bukan, Hena itu yang tertanam di dasar hati manusia. Pokoknya, kata Hendra, “Hena itu seperti pasal 33 ayat 1, asasnya kekeluargaan.” (Wah, kalau yang ini saya sepakat dengan Anda, ini memang benar-benar gak jelas).

Yah, begitulah pendapat makhluk-makhluk eksentrik tentang dirinya sendiri. Mereka yang memandang dunia dengan berbeda, karena mereka punya sesuatu untuk dipegang. Karena seperti yang dibilang Chopi bahwa mereka punya kelebihan masing-masing, mereka juga punya sesuatu yang tak kalah pentingnya. Mereka punya kegelapan dalan hidupnya, yaitu kepedihan yang membuat jiwa menjadi kuat. Dengan demikian, ketika jalan-jalan yang berbeda bertemu pada satu persimpangan, mereka menemukan apa yang membuat mereka kuat. Keberadaan yang lain, walau hanya terdengar konyol atau gak penting, namun di situlah makna terdalam dari suatu persahabatan dikuatkan. Persimpangan itu sendiri telah menjadi akar eksistensi mereka, bahwa ternyata di dunia yang hingar bingar seperti ini, masih ada mereka-mereka yang bertemu dalam kesunyian dan ketulusan.

Walah… Jiwa melankolisnya udah muncul lagi. Hehe, pokoknya begitulah, toh bukankah dalam kesendirian kita, keberadaan yang lainlah yang menjadi penguat kita? Bahwa di sana masih ada yang berdiri dan bertahan untuk bersama dengan kita, tidak hanya dalam ruang dan waktu namun juga dalam jiwa. Bahwa kita tidak sendirian di dunia ini.

Well, jadi akhirnya, Hena ini, kemudian dirumuskan dalam suatu perkumpulan rahasia. Hena membuat wujudnya dalam suatu perkumpulan orang-orang Hena yang disebut Corporatium Henas. Corporatium Henas mengumpulkan beberapa kelompok pendahuluan yaitu The Four Henas (terdiri dari Cius, Hardy, Asri, Sobur atawa Buri) dan ReGiNa (Rengganis + Giga), dan bahkan juga beberapa orang yang tidak mau mengakui kehenaan mereka. Alhasil, pendiri Corporatium Henas terdiri dari tujuh elemen, Cius the DracoHenas, Asri the PegasusHenas, Hardy the UnicornHenas, Buri the GriffinHenas, Ganis the BasiliskLefoHenas, Giga the BasiliskDextroHenas, dan Hendra the PhoenixHenas. Well, kini ditambah Chopi (yang belum punya nama belakang), yang sebelumnya termasuk golongan mereka yang menolak keHenaannya dan kini telah bertobat, hehe.

Karena itu, definisi Hena pun akan melekat dengan apa yang merupakan jiwa dari para pendirinya. Hal ini sejalan dengan apa yang disimpulkan oleh Buri, “Hena itu Sobur. Hena itu Cius. Hena itu Hardy. Hena itu Asri. Hena itu Ganis. Hena itu Giga. Plus Chopi dan Hendra.”

Jadi, Henakah kita?

7 thoughts on “H.E.N.A

  1. Wah, wah… ini dia… Sang Melankolis Plegmatis… Akhirnya ia tau juga caranya memberikan ruh ke dalam suatu tulisan… Jadi kesan untuk tulisan ini adalah: Tidak terlalu serius, lucu, manis, dll… Wa’ Genk Hena akhirnya berhasil mendeskripsikan Hena dengan sangat ekspresif… Anak Pintar… He…

    Tulisan terakhirnya Lefo judulnya ..Lelah…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s