Delayed Sleep Phase Syndrome

Ini tepat seminggu setelah tulisan ini. Dan keadaanya juga gak banyak berubah ke arah yang lebih baik. Malah bisa jadi makin buruk.

Kasusnya sama, belakangan ini, kebiasaan buruk yang sudah lama berhasil (?) saya tinggalkan (?) malah muncul lagi. Tidak lain dan tidak bukan, inilah sindrom fase tidur tertunda. Sindrom yang kadang-kadang dibilang insomnia, cuman bagi saya akibatnya kadang-kadang lebih buruk. Karena dalam kasus sindrom ini, akibatnya gak hanya mengganggu sistem tubuh, tapi juga meluas ke dalam aktivitas sosial sehari-hari. Karena manusia adalah makhluk diurnal, yang kegiatannya sebagian besar berkisar di siang hari, jelas-jelas waktu tidurnya bukan di saat-saat matahari berkuasa di langit siang.

Yah begitulah, ini penyakit yang berkembangnya juga bertahap. Awalnya dulu jam 1 masih bisa tidur, lalu kelamaan jadi jam 2, makin lama ke jam 3, dan puncaknya ketika di jam 4 juga belum bisa terlelap. Mungkin mendingan kalau di jam 4 itu tetap gak terlelap juga dan bisa menyambut pagi tanpa tidur, tapi malahan parahnya setelah itu tiba-tiba mata ini mulai berat dan kantuknya menyerang tanpa ada pertahanan yang bisa menangkalnya. Masalahnya, karena ini adalah sindrom fase tidur tertunda dan bukannya insomnia, saya masih membutuhkan 7-8 jam kemudian dari waktu itu untuk tidur. Sindrom fase tidur tertunda bukannya insomnia yang tak bisa tidur, tapi hanya peralihan masa tidur. Karena itu, masalahnya sebenarnya bukannya tidak bisa tidur, tapi tidak bisa bangun :D. Dan karena ini terulang-ulang di hari-hari berikutnya, maka lama-kelamaan ritme sirkadian saya sudah makin kacau dari milik manusia diurnal yang normal.

Sebenarnya sih, sindrom fase tidur tertunda ini bukan suatu penyakit yang mengganggu. Hanyalah karena kodrat manusia untuk menjadi diurnal, hal ini menjadi suatu kelainan. Toh sebenarnya sindrom ini tidak lain adalah seperti yang terdapat pada burung hantu, kelelawar, atau hewan malam lainnya. Tapi sayangnya nokturnalitas ini bukanlah milik manusia, dan jelas saya adalah manusia, hehe. Bagi manusia, ritme sirkadian harusnya semudah ini: Bangun di siang hari, tidur di malam hari. Itu saja, hanya begitu, apa susahnya?

Lagian juga kalau dipikir-pikir, toh ini juga bukan sesuatu yang aneh. Hihihi, bukannya saya sebenarnya juga punya waktu tidur yang sama seperti pada manusia normal? Sayangnya saja manusia-manusia normalnya bukan di belahan dunia yang sama dengan saya.

Sindrom ini dikenal juga banyak diderita oleh para memunyuk. Hal ini mungkin bisajadi disebabkan oleh karena keteguhan mereka untuk melestarikan tradisi yang telah mendarahdaging. Mereka-mereka pejuang prokrastinasi ini mendedikasikan waktu satu malam terakhir demi tugas dan pekerjaan. Karena itu tak jarang mereka harus terjaga sepanjang gelapnya malam untuk terus berlari menggapai batas akhir pengumpulan :P. Akhirnya, hal ini berakumulasi dan menjadilah apa yang namanya sindrom fase tidur tertunda itu.

Akhirnya pula sindrom ini terlepas dari adanya tugas dan pekerjaan. Kini ia telah meraih kebebasanya, hehe. Maka tidak heran jika kini acara dini hari tidak lagi berkutat pada masalah tugas kuliah. Apalagi sejak hadirnya situs jejaring sosial yang memberikan banyak fasilitas ini di komunitas, acara dini hari bisa berkisar antara perang foto tersunting, lomba balap komentar, ataupun hanya sekedar perwujudan eksistensi diri pribadi melalui tes dan kuis. Tapi, obrolan malam gak jelas masih cukup mendominasi sih.

Demikianlah, acara dini hari di satu waktu telah menjadi pemersatu kami. Ketika kami telah masing-masing undur diri dari keramaian kami di siang hari, di mana saatnya kami kembali menarik diri dalam dunia pribadi masing-masing, acara dini hari menjadi penyaluran kami untuk berkumpul kembali. Berkumpul, meski tidak dalam ruang yang sama, namun dalam suatu kemayaan. Kemayaan dunia, kemayaan fasilitas, namun bukan kemayaan perkumpulan, bukan kemayaan ikatan.

Namun, kini tiba saatnya bagi kami untuk mengundurkan diri. Bukan karena keinginan untuk menghentikan ikatan kenangan yang indah itu, ceileā€¦. Namun demi kebaikan kami sendiri, karena tak bisa dipungkiri kami juga adalah manusia-manusia yang terikat pada dunia ini, hidup di dunia ini. Dan sudah selayaknya untuk menjalani hidup sebagaimana manusia sebaiknya menjalani. Jadi begitulah, sekarang, dunia mulai sepi oleh memunyuk penghuni malam yang biasanya meramaikan ketidakjelasan dini hari. Para makhluk nokturnal sudah mulai merindukan hangatnya pagi, mendambakan riuhnya siang. Karena itu satu-persatu kami kembali kepada jatidiri kami sebagai manusia yang normal diurnal.

Well, singkat kata, kini saatnya saya turut kembali pada kehidupan kodrati manusiawi. Mengikuti jejak-jejak teman-teman yang kembali ke jalan yang benar. Karena seperti yang telah disebutkan, sindrom fase tidur tertunda mengakibatkan terganggunya hubungan pada kehidupan sehari-hari, di mana sebagian besar urusan manusia berada pada rentang waktu siang hingga sore hari.

Karena itu, kini saatnya saya mulai me-reset ritme sirkadian saya. Saatnya kembali menjadi seperti manusia. Yak, Homo sapiens, bukan Homonus nocturna.

5 thoughts on “Delayed Sleep Phase Syndrome

  1. Karena manusia adalah makhluk diurnal, yang kegiatannya sebagian besar berkisar di siang hari, jelas-jelas waktu tidurnya bukan di saat-saat matahari berkuasa di langit siang.

    Bukannya aslinya km emg makhluk nokturnal? Kerjamu kan di malam hari :-P

  2. “dan jelas saya adalah manusia”

    Yakin????
    Kok kayaknya ada yg aneh ya dari pernyataan itu…
    hehe… tapi tak apalah, toh ‘kelainan’ lo skrg ini cukup bermanfaat bwt gw… bwt bangunin gw yg susah bgt bangun malem2… hoho..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s