That's What Friends Are For

Beberapa waktu yang lalu, saya, Welldan, dan Chiell terjebak dalam suatu pembicaraan, yang seperti biasa, gak jelas. Terjebak, karena telah dicampakkan oleh tujuan semula dan butuh pelampiasan atas kekecewaan yang melanda kami (sekalian juga mencegah salah satu dari kami (baca: WELLDAN) ngamuk-ngamuk kepada kami berdua, biasalah, gara-gara agresivitasnya yang sudah terkenal luas). Begitulah, setelah melalui perjalanan panjang kami pun mendamparkan diri pada sebuah tempat nongkrong yang juga tempat makan. Eh, apa tempat makan yang juga tempat nongkrong yah? Ah sudahlah, pokoknya pembicaraan menghabiskan waktu dan kekecewaan pun dimulai.

Setelah beberapa bab ketidakjelasan, tiba-tiba Chiell teringat akan suatu kuot yang, masalahnya, baik pengarang maupun isi kuotnya dia lupa. Tapi pokoknya, inti dari kuot itu adalah bahwa persahabatan tidak hanya berisi keriuhan belaka. Bahwa persahabatan yang sejati mampu berkomunikasi dalam diam sebagaimana dalam ramai.

Saya pernah juga mendengar kuot yang serupa dengan ini. Ternyata menurut Chiell, isinya pun sejalan dengan inti kuot yang dia ingat tapi lupa. Pertama kali kuot ini saya dapatkan dari seorang sahabat yang identitasnya pernah dia sembunyikan, dan kuot ini pulalah teka-teki pertama yang dia berikan pada saya (dan Henas yang lain sih, kecuali dia sendiri).

Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.

(N.B. buat Chiell dan Welldan: Yang bilang kuot itu ternyata si Anonim, jadi maaf sudah menyesatkan, teman-teman, hehe.. Friends? Please?)

Sesaat kemudian segera kami lakukan eksperimen, maklumlah geek dan nerd, hehe. Dan hasilnya, tiga puluh detik dipatahkan oleh suara cemprengnya Chiell. Perlu dimaklumi juga, soalnya apabila dia tak berbicara lebih dari tiga puluh detik maka aura kekaburan akan menguasai dirinya sendiri dan nantinya kami tak bisa lagi menemukan dia dalam gelapnya malam itu. Well, alasan dia sih, itu gara-gara kepribadian sanguininya. Lagian juga, eksperimen aneh ini memang tidak ada hubungannya dengan inti dari kuot itu koq.

Nah, pokoknya, intinya: Persahabatan berbicara dalam hening selayaknya dalam ramai. Kadangkala, sahabat hanya perlu ada di sampingmu, hanya perlu untuk memberikan kehadirannya kepadamu. Keberadaan sahabat itulah penguat diri kita yang sesungguhnya. Karena, bukankah “sahabat adalah pemenuhan kebutuhan jiwa”?

Ya, sahabat adalah satu bentuk penegasan bagi kita sendiri, bahwa kita tidak sendirian. Bahwa masih ada yang mau berdiri bersama kita, berarti masih ada yang layak diperjuangkan dalam hidup ini. Di saat-saat kegelapan malam, di mana cahaya kita padam dan semua kegelapan melingkupi kita, masih ada yang bersama kita membagi nyala lampunya untuk menyalakan kembali cahaya kita. Entah dengan memberikan cahayanya kepada kita atau hanya duduk di sana, menerangi kita hingga kita menemukan cara untuk menyalakan cahaya kita kembali; seorang sahabat ada di sana untuk kita.

Bahkan ketika kita keluar jalur, seorang sahabat akan kembali lagi berbalik arah untuk menyusul kita, tak peduli sejauh apa ia telah berjalan. Ia akan kembali, menarik kita untuk kembali lagi ke jalan semula, dengan cara apapun, kalau perlu dengan pukulan di kepala disertai tendangan di bokong. Seperti misalnya ketika seorang telah keluar jalur dengan meyakini Emmanuel Kant bukanlah filsuf melainkan seorang pecatur yang pernah bertanding dengan Garry Kasparov, maka tugas sahabatlah untuk mencegah dia percaya bahwa Hitler dan Napoleon di waktu senggangnya berlatih catur bersama.

Well (tidak bermaksud memanggil siapa-siapa), itulah sahabat, dia yang hanya dengan keberadaanmu dapat melengkapi dirimu. Dia yang hanya dengan kehadirannya dapat membantumu menyanyikan kembali nyanyian jiwamu.

“Dan ketika kita mengembara sendirian, apa yang dirindukan oleh jiwaku di malam hari di jalan-jalan penuh jebakan? Dan ketika aku mendaki gunung-gunung, siapa yang aku cari selalu, jika bukan engkau, di atas gunung-gunung itu?” (Zarathustra, dalam Zarathustra oleh Friedrich Nietzche)

13 thoughts on “That's What Friends Are For

  1. pertamax gan…

    tapi pembicaraan kita kala itu manjur banget lho mengatasi rasa kecewa, kalo dipikir baik-baik pembicaraan itu tidak sia-sia koq meskipun niat awalnya untuk bersia-sia (masak ada yang bilang ya sudah kita ngobrol disini sampai film angels and demons-nya habis, which means 11 pm…). ya meskipun dalam tulisan ini saya banyak dilecehkan, (agresive tingkat tinggi??, meyakini bahwa Emmanuel Kant bukanlah filsuf??–>awalnya iya sih :p), tapi akhirnya aku berhasil mendapatkan pelajaran berharga dari kuote kalian itu… kuot itu pembela bagi sahabat yang tidak pintar bicara/memulai pembicaraan, yah boleh dibilang pendiam melankolis seperti diriku ini :D.

    salam super, salam sahabat, salam sahabat, dan salam yang lainnya.

    Tulisan terakhirnya welldan judulnya ..The New Terminology of Fotogenic..

  2. Sahabat… Satu kata, berjuta makna… Satu kata, yg demi kata itu, engkau berani untuk terus maju meski harus menyebrangi kegelapan pekat yg tak berujung, karena engkau tahu, ia tak akan melepaskan genggaman tangannya dan terus melangkah bersamamu…

    Sahabat, seseorang yg menangis dalam diamnya, saat kau terluka dan ia tak mampu berbuat apapun untuk menyembuhkan lukamu, selain hanya duduk di sampingmu dan tersenyum, mencoba menepis galau yg kau rasakan…

    ‘Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata: “Aku lupa”,, menunggu selamanya ketika kamu berkata:”Tunggu sebentar”,, membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan berkata:”bolehkah aku masuk?”,, dan tetap tinggal ketika kamu berkata: “tinggalkan aku sendiri”,,’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s