Yeahh, I’m abnormal, so?

Pertama-tama, saya jelaskan bahwa semua yang ada dalam tulisan ini adalah sikap saya, dan saya tidak membela ataupun menjelaskan sikap pihak lain kecuali mereka setuju sepenuhnya dengan cara pandang saya. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan saya terhadap masalah yang sedang dibahas. Mungkin ini terlambat, karena masalah ini sudah muncul cukup lama, namun dalam komunitas kami, masalah ini beberapa hari terakhir muncul kembali ke permukaan, diskusi yang kami adakan di plurk. Tulisan ini merupakan kesimpulan dari diskusi tersebut. Selain itu, karena saya telah memakai hal yang dipermasalahkan tersebut dalam ruang publik ini, sudah sepantasnya saya pun memberi penjelasan.

Masalah ini menyangkut kepantasan suatu istilah dijadikan sebagai suatu, menurut pandangan beberapa orang, “ejekan”. Atau, “daily jokes”. Mungkin sudah ada yang menangkap maksudnya. Ya, secara lengkap, “using word autism in daily jokes”, atau “penggunaan kata autis dalam candaan sehari-hari”.

Masalah ini timbul karena istilah “autis” dirasa tidak selayaknya dijadikan bahan ejekan. Autisme adalah gangguan perkembangan otak, yang menyebabkan pelakunya mengalami kesulitan dalam hubungan sosialnya. Tidak pantaslah suatu “kecacatan” seperti ini dipakai untuk senang-senang, dipakai untuk meremehkan orang lain. Hal yang menyakiti hati mereka yang benar-benar terlibat dengan autisme, dan karena para autis tidak dapat mengerti permasalahan ini, maka hal ini terlimpahkan pada mereka-mereka yang dekat dengannya atau para pengasuhnya, di mana makin terasa menyedihkan.

Namun demikian, tidakkah bahwa sikap membeda-bedakan ini pula adalah suatu ejekan? Tidakkah menganggap autisme sebagai suatu “kecacatan” juga merupakan peremehan dan pengucilan? (Dalam tulisan ini saya tidak pernah menggunakan istilah “penyandang autis” atau “penderita autis”, melainkan “autis”, seperti pada scientist atau artist). Bukankah semua ciptaan-Nya adalah kesempurnaan, dan mereka sempurna dengan caranya masing-masing?

Yang pertama, masalah “candaan”. Itu adalah inti dari masalah ini, di mana kata autis dianggap tidak pantas dipakai sebagai candaan. Hal ini dikarenakan candaan yang dimaksud dalam kasus ini adalah berupa ejekan, atau ledekan, yaitu sesuatu yang dipakai sebagai peremehan seseorang. Dalam ejekan, kata yang digunakan dijadikan suatu yang rendah sifatnya, sebagai suatu sifat yang bukan merupakan kebaikan dalam konteks komunitas.

Namun, bagi saya, dan komunitas kami, ejekan tidak selamanya meremehkan dan merendahkan. Mungkin bagi beberapa orang ini aneh, tapi bagi komunitas kami hal seperti itu bisa saja terjadi. Kadangkala, ejekan berubah maknanya sebagai julukan, karena label yang digunakan dalam ejekan itu bagi komunitas kami dipandang sebagai sesuatu yang berharga. Seperti yang telah saya sampaikan dalam diskusi kami, posisi istilah autis dalam masalah ini bagi saya sama seperti istilah “geek” atau “nerd”. Kedua istilah itu awalnya memang digunakan sebagai pelecehan, namun dari dalam kami sendiri, istilah tersebut mengandung suatu penghargaan tersendiri. Maka, ketika kami saling meledek “What a geek” atau “Dasar nerd” sesungguhnya ada suatu nilai lebih yang terkandung dalam pemaknaannya.

Demikian juga dengan istilah autis. Dalam permasalahan yang timbul, istilah autis dipergunakan untuk merepresentasikan ketidakacuhan terhadap keadaan sekitar, atau dengan kata lain, kelambatan pemrosesan rangsangan (atau lambat merespon). Namun bagi saya dan kami, meskipun yang diangkat adalah aspek yang sama, namun representasi yang mengikutinya berbeda.

Bagi kami, aspek ketidakacuhan terhadap keadaan sekitar disebabkan oleh adanya konsentrasi tingkat tinggi. Konsentrasi tingkat tinggi inilah makna yang kami masukan dalam julukan “autis”. Kelambatan respon terhadap lingkungan eksternal justru menandakan intensitas konsentrasi yang sangat tinggi pada sisi internal. Seorang yang begitu berkonsentrasi dan sangat sangat amat tenggelam dalam pemikirannya, sehingga mengabaikan respon yang datang dari luar dirinya. Para autis, entah dengan savant syndrome atau tidak, adalah mereka yang hidup dalam dunianya sendiri, yang tak menghiraukan interupsi dari dunia luar. Dan tidakkah ini dapat dianggap sebagai dedikasi tingkat tinggi, sama ketika geek berhadapan dengan komputer atau nerd di tengah tumpukan bukunya.

Hal ini juga yang membawa kita kembali ke masalah “ejekan”. Satu kata punya bermacam arti. Seperti yang dezed bilang, “kata *anjing* yang keluar dari mulut seorang sahabat tentu lain artinya jika diucapkan dari seorang musuh”. Meskipun berasal dari kata yang sama, namun aspek yang diambil bisa saja berbeda. Ketidakacuhan yang di satu sisi dianggap sebagai kejelekan dalam hubungannya dengan perilaku sosial, namun memiliki arti yang berbeda bila dikaitkan dengan hal-hal seperti minat, niat, dan kesungguhan.

Begitulah setidaknya pandangan saya (dan kami). Namun demikian, pandangan dan pendapat di sisi lain dan sikap toleransi di sisi lainnya adalah dua sikap yang membutuhkan tindakan yang berbeda. Karena itu, dalam nama toleransi, saya mengganti semua kata yang sebelumnya berkaitan dengan “autisme” dari blog ini yang menyangkut pihak yang tidak berkenan. Tulisan ini dibuat dalam rangka pelaksanaan tindakan ini, sebagai penjelasan atas sikap saya selama ini. Tindakan ini dilakukan karena sepertinya masih belum banyak pihak yang sejalan dengan pendapat di atas sehingga memungkinkan kesalahpahaman dan penggunaan yang melenceng dari maksud yang diberikan.

Dan demikian juga, seperti yang telah saya sebutkan di awal, tulisan ini hanya mencerminkan pandangan saya, dan juga sejauh yang saya tangkap, pandangan kami. Pandangan ini tidak dimaksudkan untuk membela kepentingan semua pihak, ataupun penggunaan istilah autis secara umum.

16 thoughts on “Yeahh, I’m abnormal, so?

  1. hmmm… begitulah… setiap tindakan, ucapan, dan pemikiran seharusnya memang dikaji dari berbagai paradigma yang berbeda, yah minimal dua paradigma lah… tapi saya tetep nggak suka kata anjing yang diberikan pada seorang sahabat, meskipun niatnya apalah itu, tetep saja kasar… *anjing lu!* what the heck??!!, mbok kasih yg baik lah…memanusiakan manusia.

    tidak menggunakan “autis” sebagai daily jokes pun tidak bermaksud memilah2-mendiskriminasi orang2 autis, tidak pula menganggap autis sebagai kecacatan, justru kita menghormati penggunaan kata autis sesuai kelazimannya yang sesuai dengan norma kebiasaan. Toh sepanjang pengetahuan saya orang yang konsern di bidang autism, tidak seenaknya menggunakan autis sebagai daily jokes…

    oke mungkin bagi anda yang telah mengetahui pelebaran arti autis, yang tidak lagi hanya berarti “gangguan perkembangan otak” fine2 aja bila autis dijadikan daily jokes, tidak demikian bagi kebanyakan orang kan? nah kita harus menjaga perasaan orang lain..

    analogikan lagi dengan geek dan nerd, seperti pernyataan anda ejekan geek dan nerd mempunyai arti yang berbeda jika dalam komunitas tertentu kan? artinya lingkupnya kecil hanya komunitas, coba saja lontarkan ejekan pada orang dikomunitas lain guru, dokter, pengacara, nggak ada maknanya-fiddle faddle.

    • yah begitulah.. tapi maksudnya adalah bahwa dalam suatu kata itu ada Ide yang melampauinya, melampaui arti harafiah kata itu… toh konotasi bahwa kata *anjing* adalah suatu yang tidak baik pun berasal dari penilaian manusia..

      yang namany ledekan, candaan, itu mah emang penggunaan kata yg diperluas maknanya dan di luar ‘kelaziman’…

      karena itulah akhirnya saya melakukan penarikan terhadap penggunaan kata itu, mungkin karena ternyata dunia belum siap dan masih banyak aspek yang bisa dipelintir…

  2. “Bukankah semua ciptaan-Nya adalah kesempurnaan, dan mereka sempurna dengan caranya masing-masing?”

    ya itu adalah penilaian kita sebagai hamba terhadap semua KuasaNya. emangnya siapa kita berani menilai Pencipta kita?

    namun tidak jarang kita sebagai ciptaan menilai ciptaan lainnya menggunakan tolok ukur kesempurnaan adalah diri sendiri, maka ketidaksempurnaan dalam pikiran pribadi kita terhadap orang lain memicu kita untuk menganggap orang lain tidak sempurna–abnormal–, inilah suatu bentuk keangkuhan, padahal keangkuhan merupakan bentuk ketidaksempurnaan. hanya Alloh yang lebih tahu hambaNya yang mana yang paling sempurna/baik, yaitu hambaNya yang paling baik takwanya.

    maka jika orang lain menilai saya/anda abnormal….so….so what?? saya mah nggak usah ambil pusing.

    • tapi itu lebih dari sekadar penilaian, di dalamnya terdapat juga nilai-nilai harapan, kepasrahan, dan keyakinan…

      yeahh, karena itu, so what if I’m abnormal? Hell with that, kita membawa nilai-nilai kesempurnaan dengan cara kita masing-masing.

  3. Aneh. Ditinggal seminggu malah semakin muncul semakin banyak masalah.

    Kita bikin The Big Bang Theory season 3 sendiri aja yuk…!!
    Jadi ceritanya, Leonard jadian sama Penny. Kemudian mereka hidup bahagia selama-lamanya….
    Gitu kan enak. :p

    Biar ada bumbunya dikit, Raj kena Strike-27 sama si Sheldon, dan bener2 di usir dari peradaban.

    Trus apa lagi ya?? Ada ide ga??
    Pokoknya intinya Leonard harus jadian sama Penny!!!!

  4. Oww… ternyata Ciuz abnormal tho!

    Kita punya abnormal dan kecacatannya masing-masing. Secara non-lahiriah pun aku juga cacat, aku akui. Tapi, aku berusaha mengambil nilai positif dan mencari jalan terbaik untuk itu.

    Well, tahu nggak? Terkadang seseorang yang merasa “kekurangan” akan sesuatu dalam dirinya, berusaha melemparkan “kekurangan”nya ke orang lain juga dengan maksud agar mengetahui tanggapan orang lain mengenai “kekurangan” tersebut. Jika orang lain menanggapi positif, maka barulah dia berani mengatakan bahwa dia sebenarnya yang (juga) mempunyai “kekurangan tersebut.

    Tapi, jangan seperti teman kita yang sewaktu KKN mencantumkan kecacatan fisiknya adalah tampan*. Kecacatan berarti kekurangan, abnormal, dll. Dan yang kita tahu…

    – No body is perfect –

    • yeahh, itu maksudnya pula ‘kita membawa dalam diri kita sendiri kesempurnaan menurut cara kita masing-masing’. Toh dengan kekurangan itu kita menemukan kelebihan yang terbentuk dari kekurangan itu.

      *gak ikutan ah tentang temen KKN kita itu. Kalau tampan dianggap kecacatan, berarti kita tahu definisi dia tentang penampilan fisik yang baik itu menuju ke mana.. *hahaha, peace

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s