Baik-baiklah sekarang, Potty…

Ternyata sudah lama saya tidak memberi pembaharuan pada blog ini. Sebenarnya, ini gara-gara ketidaksinkronan momen yang datang dengan hasrat menulis. Jadi, begitulah, peristiwa dengan kesempatan yang bagus itu lewat begitu saja tanpa sempat ditorehkan di sini (halah, bilang aja males… :D).

Nah, daripada makin menjadi-jadi kemalasannya, mendingan saya tulis deh apa yang lagi lewat di depan mata. Kebetulan, baru-baru ini, ada sahabat yang membuat tulisan ini. Tulisan tentang salah satu cerita yang ikut mengisi alam imajinasi saya, dunia sihir Harry Potter. Tak diragukan lagi, dia memang seorang fans Potter. Tapi, jadi kepingin juga, membuat analisis tentang Potter. Hehe, ini tidak dimaksudkan untuk membuat pertengkaran atau menebar kebencian, hanyalah suatu partisipasi untuk memberi pandangan yang berbeda mengenai dunia itu.

Yang jelas, saya bukanlah fans Harry Potter. Salah satu hal yang saya pelajari dari diri Harry Potter dan kisahnya adalah, bahwa  menjadi judul dalam suatu cerita tidaklah menjamin dirimu menjadi tokoh terhebat dalam cerita tersebut. Kalau misalnya, kita ambil contoh pada kisah dalam buku seperti Life of Pi, Balthazar’s Odyssey, ataupun Faust, pada masing-masing kisah tersebut diceritakan mengenai perjuangan maupun petualangan sang tokoh dalam judul. Tokoh-tokoh utama tersebut merupakan tokoh yang memberi cahaya penuntun pada jalan cerita.

Namun tidak demikian halnya dalam kisah Harry Potter. Yang kita ketahui dalam kisah ini adalah, mereka yang lain, para pahlawan-pahlawan dengan kisah-kisah hebat mereka yang menghamparkan diri demi keselamatan Harry Potter. Yang paling hebat, mungkin, adalah kisah Severus Snape, pria yang mengorbankan nama baiknya demi sepotong kemulusan jalan bagi Potter. Pria yang, demi cinta sucinya yang begitu besar, mengorbankan reputasi dan harga diri demi seorang anak yang ia benci. Dan di sanalah Potter, tak bisa mengenali bahwa sebenarnya Snape itu seperti dirinya, ditinggalkan oleh dunia di mana ia meletakkan harapannya. Karena, “Ah ya. Harry Potter. Selebriti baru kita.”

Lalu ada Albus Dumbledore, penyihir terhebat di dunia, yang mengorbankan dirinya sendiri dalam sandiwara terbesar untuk, lagi-lagi, menegaskan dan melindungi orang-orang lain, memungkinkan mereka mengambil perannya sendiri bila saatnya tiba nanti. Tak ayal lagi, Dumbledore-lah sang sutradara, dalang di balik layar yang menentukan jalannya para pion dalam pertarungan ini. Dia yang menaruh jejak di mana-mana, memberikan kesempatan bagi Potter untuk memenuhi takdirnya. Dan Potter pun masih tak bisa memahami bahwa penyihir sebesar Dumbledore tak akan pernah memohon belas kasihan untuk nyawanya.

Bahkan untuk Neville Longbottom, anak laki-laki berwajah bundar yang selalu kehilangan kataknya. Ya, saya setuju, butuh keberanian besar untuk menjadi seorang Longbottom, seorang yang berhasil mengalahkan keterbatasan dirinya, dan menjadi suara kebenaran yang hadir mengingatkan di masa-masa sulit. Karena, “Perlu banyak keberanian untuk menghadapi lawan, tetapi diperlukan keberanian yang sama banyaknya untuk menghadapi kawan-kawan kita.” Ia menjadi suara yang mengingatkan kita di saat kejatuhan kita, peneguh semangat, dan suatu harapan, akan keberanian yang selalu tertanam dan muncul di saat yang tepat, apapun keadaan kita. Kau berharga dua belas kali lipat, Neville.

DAN AKU SUDAH MENANGANI LEBIH BANYAK DARIPADA YANG BISA KALIAN BERDUA TANGANI DAN DUMBLEDORE TAHU ITU-SIAPA YANG MENYELAMATKAN BATU BERTUAH? SIAPA YANG MELENYAPKAN RIDDLE? SIAPA YANG MENYELAMATKAN KALIAN BERDUA DARI DEMENTOR? SIAPA YANG HARUS MELEWATI NAGA DAN SPHINX DAN SEGALA MACAM BAHAYA LAIN TAHUN LALU? SIAPA YANG MELIHAT DIA KEMBALI? SIAPA YANG HARUS MELARIKAN DIRI DARI DIA? AKU!

Kita tahu betapa polosnya hati yang dapat memperoleh Batu Bertuah dari Cermin Tarsah, namun bukankah kita sebelumnya harus lolos dari Jerat Setan dan set raksasa catur McGonagall dulu?

Kita tahu seberapa beraninya seorang yang dapat mencabut pedang Gryffindor, namun bukankah kita harus mengenali kalau musuh kita memiliki basilisk?

Kita tahu seberapa hebatnya kita menggunakan Mantra Patronus, namun bukankah kau harus mundur sedikit dan melakukannya dari jauh, jauh dari bayang-bayang kabut Dementor?

Kita tahu hebatnya kita dalam berjuang, namun bukankah kita baiknya memiliki keberuntungan bahwa tongkat sihir milik musuh dan kita sendiri tidak dapat dipakai bertarung bersama?

Kita tahu kehebatan kita dalam membangun suatu gerakan sihir bawah tanah, namun bukankah kita tetap harus memiliki penolong-penolong yang mampu bersandiwara dengan  baik layaknya Professor Snape?

Kita tahu betapa setia kita terhadap Albus Dumbledore, namun bukankah kita tetap membutuhkannya untuk melindungi agar Pelahap Maut tidak menyadari?

Kita tahu seberapa terpilihnya kita, namun bukankah kita tetap membutuhkan bantuan-bantuan tak bernama dan tak berwajah itu?

Ya, begitulah. Pada akhirnya, kekuatan Potter yang terbesar adalah keberuntungan *well, selain Expelliarmus mungkin*. Karena, ini bukanlah kisah tentah Sang Terpilih Potter, ini sebuah kisah tentang perjuangan banyak orang yang memilih Potter untuk jadi cowok poster mereka, untuk jadi maskot, yang harus mengucapkan kata yang tepat di waktu yang tepat dengan tongkat sihir yang tepat.

Kalaupun ada (mudah-mudahan ada), spesialisasi Potter adalah bertahan hidup, karena dengan dia berhasil melewati tahun ini dengan selamat, maka itu sudah cukup, itu berarti tahun depan masih ada harapan. Potter adalah layaknya panji perjuangan, yang harus dipertahankan untuk menjaga moral pasukan (walaupun seringkali panji itu berkibar dan berkelebat ke arah yang menyulitkan laju gerak pasukan). Yeah, bukan “Sang Terpilih”, tapi “Anak yang Bertahan Hidup”.

Demikianlah, dunia mengenali perbuatan-perbuatan besar para pahlawan. Tribute to Severus Snape, Albus Dumbledore, Neville Longbottom, Ronald Weasley, Hermione Granger, Luna Lovegood, Remus Lupin, Sirius Black, Minerva McGonagall, Alastor Moody, Arthur Weasley, Nymphadora Tonks, Molly Weasley, Fred dan George Weasley, Rubeus Hagrid, Bill Weasley, Kreacher, Firenze, Phineas Nigellus, Dobby, Mr. Ollivander, Griphook, Fawkes, Cedric Diggory, Grawp, Regulus Black, Narcissa Malfoy, Petunia Dursley, dan semua pihak lain yang ikut berperan dalam perjuangan menghancurkan kegelapan, tak peduli seberapa kecilnya itu.

Bahkan kalau kau hanya mengucapkan Expelliarmus pada akhirnya, namamu tetap terhitung. Nah tu, dia ikut masuk juga kan, jadi bagi kalian para fansnya, jangan pada marah ya.. Peace…  Namanya juga tulisan pengusir penat.. :D

7 thoughts on “Baik-baiklah sekarang, Potty…

  1. Kalo menurutku judul Harry Potter gak masalah, soalnya hampir seluruh cerita diceritakan dari sudut pandang Harry (meskipun menggunakan penceritaan orang ketiga) dan bagaimana perasaan Harry selama mengalami hal-hal yang terjadi. Harry memang bukan pahlawan super seperti Superman atau Ksatria Jedi yang sendirian mampu menghancurkan sepasukan droid. Justru di situlah kelebihan J. K. Rowling yang mampu menampilkan sosok pahlawan yang bukan pahlawan super, yang banyak dibantu orang lain dan faktor keberuntungan, bahkan hanya menjadi boneka Dumbledore. IMHO

    Buatku yang paling berkesan dari HP bukan kisah superhero-nya, tapi lebih bagaimana perkembangan karakter seorang Harry dan persahabatannya dengan Ron dan Hermione.

    * aku juga bukan fans HP, cm suka sama fiksi yang bener2 bagus kaya HP :-D

    • Memang judulnya gak masalah, cuman karena itu kita jadi punya pandangan baru tentang judul, kayak aku bilang di atas.

      Tohh tulisan ini juga bertujuan untuk memberi pandangan bahwa Potter tu juga cuma manusia biasa, yang telah dibuktikan pendapat dan kelakuannya seringjuga salah (buku kelima, contoh paling baik untuk “kemanusiaan” Potter). Potter cuma anak yang “—biasa saja, sombong seperti ayahnya, kecenderungan untuk melanggar peraturan, suka melihat dirinya terkenal, mencari perhatian, tidak sopan—”.. (hehehe)

      Yoi, bahkan hanya boneka Dumbledore.. :p

      *aku juga suka HP, tapi bukan suka sama Potter… :D

  2. ya pengetahuan baru ni tentang HP, saya orang awam novel HP yang cuma nonton filmnya, dan sedikit tau karena banyak bertanya… setelah membaca cerita ini…

    saya tetep suka harmoine *lebih tepatnya yang meranin harmoine, :P

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s