In Memoriam, Aloysius Kristyarso

Requiem æternam dona eis, Domine,
et lux perpetua luceat eis.
Te decet hymnus Deus, in Sion,
et tibi reddetur votum in Ierusalem.
Exaudi orationem meam;
ad te omnis caro veniet.
Requiem æternam dona eis, Domine,
et lux perpetua luceat eis.

Tiga Juli 2010, jam 10. Hari yang ia sepakati untuk pergi, untuk berbicara dan mengobrol dengan nyaman. Pilihan waktu yang kami berikan untuk sekedar mengistirahatkan beliau, karena ketika itu hari sudah malam dan ia tetap gelisah tak bisa tidur. Namun tak kami kira itu akan menjadi perjalanannya yang terbesar. Perjalanan Kristyarso menuju Rumah Asalnya.

Halo, Pak. Nguing nguing. Hehe..

Requiescat in Pace

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras; namun kau tetap tabah
Meski nafasmu kadang tersengal memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan

Ya. Kristyarso selalu menyimpan segala peristiwa di dalam hatinya. Itulah prinsip hidupnya yang terbesar. Untuk hidup dengan terus berkarya dan tanpa mengeluh. Untuk berkata apa yang perlu dan lalu mengerjakannya. Ia berbicara dengan tangannya, karena karya kadang lebih kuat dari kata yang tanpa makna. Kristyarso adalah orang teknik sejati, yang mengabdikan hidupnya pada karya keterampilannya, bukan hanya sekedar kata kosong.

Saya masih ingat, ketika saya pernah ikut Bapak ke tempat kerjanya di satu kota. Waktu itu kami pergi ke suatu sekolah untuk promosi magang di kantornya. Yang paling membekas adalah introduksinya kepada anak-anak SMK tersebut. Kira-kira seperti ini, “Saya bisa berdiri di depan sini bukan karena saya lebih pintar dari adik-adik semua. Tapi karena saya beruntung, saya lahir lebih dulu dari kalian semua. Sehingga saya sekarang bisa ada di sini untuk bercerita tentang apa yang sudah saya dapat.” Begitulah, bukan kehormatan yang ia pentingkan, namun bagaimana suatu pengetahuan terteruskan, suatu pekerjaan terselesaikan, suatu tujuan tercapai.

Seperti apa yang dikatakan tentang dia, bahwa Kristyarso adalah seorang yang sumarah dan sumeleh, pasrah dan ikhlas. Bahwa ia berkarya untuk karya itu sendiri, untuk tujuan yang terikat pada karya itu. Bukan untuk hal semacam pujian atau kebaikan bagi dirinya sendiri.

Dan juga, siapa yang tidak mengenali warisan paling keren dari Kristyarso, kening lebar kami ini. Hehehe… Karena perlu kelebaran pikiran untuk belajar kelapangan hati Kristyarso.

Sepanjang hidup Bapak adalah perjalanan.

Tanpa lelah Bapak melintas dari satu tempat ke tempat lain

Membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan.

Aku rindu melihat Bapak datang hari Sabtu pagi;

Aku rindu mengantar Bapak ke Jembatan Jagabaya hari Minggu sore..

Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu; jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak

Ia adalah seorang pekerja keras. Ketangguhannya terlihat dari tenaga dan staminanya yang sukar diimbangi. Seperti pengalaman ketika di rumah sakit. Hingga saat-saat terakhirnya, ia selalu ditunggui oleh dua orang, karena satu orang tidak akan mampu menahan dirinya dan menenangkan kegelisahannya. Ketangguhan badan yang begitu besar, yang hanya dapat dikalahkan oleh ketangguhan jiwanya.

Kristyarso begitu erat menjaga keluarganya. Ia tidak senang bila ada pertengkaran. Ia akan berusaha mencairkan suasana, karena baginya kerukunanlah yang utama. Karena keluarga bukanlah sekumpulan orang yang terjebak dalam egonya masing-masing, tetapi mereka yang bergerak dalam tujuan yang sama.

Karena baginya yang terpenting adalah kedamaian, yang mana selalu ia usahakan di manapun ia berada. Karena ia tidak menyenangi adanya konflik. Kristyarso dikenal sebagai seorang yang riang, seorang yang menyegarkan suasana dengan kelucuannya. Karena baginya hidup tanpa beban adalah ketika kita dapat membawa kebahagiaan kita ke sekitar kita. Bukan berarti kedamaian saja tanpa tujuan, namun karena ia percaya bahwa tujuan tak dapat tercapai bila kedamaian belum terwujud. Bagaimana mungkin kita duduk tenang menyelesaikan masalah jika urat-urat kita masih tegang mempertahankan ego pribadi.

Dan itulah contohnya yang terbesar kepada kami. Entah sudah berapa kali beliau terpaksa mengalah demi kami anak-anaknya. Entah sudah berapa kali beliau mengorbankan dirinya dan bahkan harga dirinya demi kenyamanan hidup kami.

Tetapi bukan semata kedamaian dan kebahagiaan lalu melupakan makna. Kadangkala Bapak begitu keras dan tegas bila telah mencapai hal yang penting. Ia tidak akan membiarkan keluarganya jatuh ke dalam kehancuran, dan ia menjaganya erat di hatinya. Ia menjaganya erat, seerat anaknya bergelung di ketiaknya ketika tidur.

Sudah tiga puluh tahun Bapak membentuk keluarga ini

Mengorbankan diri agar kami dapat berkembang

Dan hal itu tidak akan pernah hilang, karena Engkau tidaklah pergi

Engkau hanya berpindah dari tubuhmu ke dalam hati kami semua

Ke dalam kenangan kami.

Sesungguhnya aku menangis sangat lama
Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang
Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti
Namun aku yakin engkau telah memaafkanku

Tiga puluh tahun sudah Bapak membentuk kami dalam kesabarannya. Lima puluh satu hari Bapak tergeletak di rumah sakit. Jangka waktu yang begitu kecil bila dibandingkan dengan tiga puluh tahun itu. Dan bahkan kerewelan yang terlalu kecil bila dibandingkan dengan semua ulah yang telah kami lakukan kepada keluarga ini. Namun bahkan kami pun tidak bisa sabar menghadapi kerewelan dirinya tersebut.

Begitupun, karena yang kami lakukan semua hanyalah untuk kebaikannya juga. Untuk selalu meyakinkannya, bahwa untuk mendapatkan kenyamanan pada masa depan terkadang kita harus menerima ketidakenakan di hari sekarang. Saat-saat paling gelap adalah sebelum datangnya fajar.

Karena sebenarnya hal ini sama seperti prinsipnya ketika membeli barang-barang untuk rumah kami. Bapak selalu mementingkan kualitas daripada harga. Lebih baik membeli barang yang sedikit mahal namun lebih awet daripada barang standar yang cepat rusak. Dan akhirnya Bapak pun menerima dan menyetujui keputusan kami, lebih baik bersusah payah menghilangkan suatu bagian yang sakit daripada seluruh tubuh rusak kemudian.

Namun Penyelenggaraan Ilahi berkata lain. Tuhan telah memberikan kepadanya apa yang terbaik baginya. Bukan apa yang terindah bagi kami. Kelegaan yang begitu besar untuk kelepasannya. Seperti yang kami percayai di akhir hari, bahwa kami tidak akan meminta apa yang berlawanan dengan kehendak Sang Empunya Hidup, namun kami hanya dapat mengharapkan kekuatan dalam perjalanannya.

Maafkan Emah, Pak, kalau akhirnya aku harus menangis

Namun itu karena aku telah tersadar

Bahwa aku tidaklah takut akan tangisan dan pakaian hitam

Karena orang yang kuat bukanlah ia yang tidak pernah menangis

Namun ia yang dapat memahami tangisannya.

Hari Kamis pagi, sebelum berangkat pergi bekerja, seperti biasanya saya berpamitan pada Bapak. Namun tidak seperti biasanya, ketika ia kemudian mengajukan beberapa pertanyaan seputar tempat kerja saya. Entah ini bisa disebut apa, ketika kemudian beliau menanyakan apakah saya senang dengan tempat kerja itu. Karena lalu pesannya jelas, “Teruskanlah kalau kamu memang senang dengan pekerjaanmu.” Seakan itu menjadi pesannya yang terakhir dan terpenting. Pesan untuk meneruskan warisannya yang terpenting, cita-citanya. Untuk melakukan pekerjaan demi tujuan dan pekerjaan itu sendiri, bukan hanya semata materi dan kepuasan pribadi. Untuk mengatakan hal-hal yang perlu dan penting, tanpa melupakan tindakan yang diperlukan karena kata-kata itu. Untuk bertindak dalam apa yang melebihi kata.

Hiduplah dalam Kenangan Kami, Pak

Selamat jalan, Pak, selamat lahir kembali.

Berbahagialah Engkau di sana.

Dan doakanlah kami senantiasa.

Agar nama belakang kami tidaklah menjadi tempelan semata.

[1] Requiem

[2] Ayah (Ebiet G. Ade)

[3] Yang Terbaik Bagimu (Ada Band)

[4] Ayah, Aku Mohon Maaf (Ebiet G. Ade)

4 thoughts on “In Memoriam, Aloysius Kristyarso

  1. turut merasakan perihmu.
    tegarlah, setegar ketabahan bapakmu.
    teruslah melangkah bersama kenangan itu.
    buktikan baktimu, wujudkan cita-citamu.
    “Teruskanlah kalau kamu memang senang dengan pekerjaanmu.”

  2. can’t say anything cius….
    cuma….turut merasakan rasa itu,yg dlu pernah gw blg kalo gw mungkin gtw rasanya gmn….tp dr tulisan lo ini,gw rasa gw bs ngerasain gmn……

    terus berdoa,jadilah yg terbaik utk Alm. Bpk. Kristyarso….

  3. Semangat Cius… Setelah membaca tulisan ini, gw semakin yakin satu hal: sahabat gw yg satu ini akan mewarisi ketegaran orang yg paling hebat dan salah satu yg paling berharga dalam hidupnya.. Teruskan kebaikan2 beliau, dan jadilah berarti bagi dunia,seperti sangat berartinya beliau.. Cuma 2 kali bertemu,tapi gw sudah tau: like father,like son.. Hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s