Vivat Academia

Ternyata untuk tulisan yang ini bahkan berjeda lebih lama dari tulisan sebelumnya. Hehe, sebagian dikarenakan di masa-masa kemarin, saya (dan sekelompok teman) sedang berjuang keras tak kenal lelah demi merajut impian dan menggapai harapan. Halah. Pokoknya, ketika Anda membaca tulisan ini, kami telah berhasil melewati medan perang kami masing-masing, untuk menghadiri prosesi agung pada satu ujung fase akademik seseorang.

Introduksinya meriah ya? Well, intinya, kami telah menyelesaikan jenjang strata satu kami. Dan dengan demikian, kami telah berhak untuk menyebut diri kami dengan gelar Ilmuwan Komputer. Kalau mengutip lagu yang didoktrinkan pada kami di awal masuk, sebagai “pewaris peradaban yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia.[0]” Suatu fase, yang mungkin bukanlah fase yang begitu tinggi, namun merupakan fase awal yang menahbiskan seorang manusia sebagai bagian dari dunia ini. Fase yang mengantarkan kami kepada tanggung jawab sebagai salah satu warga dunia, yang telah dibesarkan oleh dunia ini.

Bagi kami sendiri, fase ini adalah fase yang sangat berarti. Selain terhadap hal yang telah disebutkan di atas, tak lain juga karena untuk mencapai fase ini banyak perjuangan yang telah kami lewati. Perjuangan untuk menggapai mimpi, dan bila dilihat dari sisi lain, juga perjuangan untuk menyatakan mimpi dan bangun dari bermalas-malasan.

Ya, mimpi. Yang membuat kita menjadi seorang manusia. Orang-orang Arab akan berkata, “Man jadda wajada.” Arti mimpimu yang terbesar adalah ketika kau mewujudkannya. “Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu,” sahut Arai. Possunt, quia posse videntur.[1]

Karena kadangkala yang terpenting bukanlah hasil akhirnya, namun apa yang kau dapat ketika akhir itu tiba. Edison telah menemukan sepuluh ribu jalan yang tidak bekerja, Frodo jatuh ke dalam pesona cincin, dan Dumbledore mati. Kegagalan pada satu fase bisa jadi menentukan keberhasilan fase yang lebih besar. Entah apa yang terjadi, namun setidaknya sepanjang perjalanan kita mendapatkan sesuatu, baik dan buruk, yang tidak didapatkan seandainya kita tetap tinggal.

Ingatkah kawan, bahwa kita harus mengalami masa-masa kemalasan untuk dapat memecut diri kita kembali ke jalan? Ingatkah, setelah memandang sekering yang gosong, ketika akhirnya kita menyadari bahwa penstabil tegangan listrik tidak seharusnya dipasang secara serial? Dan ingatkah engkau, berapa hari kau tidak tidur di hari-hari akhir perjuangan?

Begitulah, tidak peduli apa hasil akhirnya, yang penting adalah mimpi, yang penting adalah niat untuk melaksanakannya. Cara terbaik untuk mengetahui apakah mimpimu dapat digapai adalah dengan melaksanakannya. Dalam akhir film The Adventures of Sharkboy and Lavagirl, ada satu kutipan yang menarik, “It might have started as a dream. But as we saw yesterday, when we make our dreams a reality, reality becomes a dream.”

Dan ingatkah pula, betapa bangganya ketika kita keluar dari koperasi setelah membeli lembar-lembar pembatas bab, sesuatu yang menggambarkan kesiapan lembar-lembar kerja kita untuk memasuki proses cetak? Betapa matahari seolah-olah bersinar lebih cerah dan dunia kini tersenyum menyambut?

Karena tak ada yang melebihi kegembiraan hasil akhir bila bukan karena perjuangan pada proses. Dan proses, perjalanan yang kami lewati kemarin adalah termasuk satu yang membahagiakan (bila kita mengingatnya sekarang), ketika sekelompok orang yang merasa senasib menyatukan visi dan membentuk kelompok persaudaraan untuk menghancurkan cincin Sauron menyelesaikan catatan terakhir mahasiswa.

Demikianlah, para pejuang Kode bergerak rahasia di malam hari, mengembangkan sistem untuk menguasai dunia dalam Matrix mereka (satu membuat jejaring pengatur fungsi sosial, dua membuat sistem yang mengalahkan kepintaran manusia, dan tiga membuat sistem pembuat aturan). Oke oke, yang terakhir memang berlebihan, yang benar adalah, “Without us, the world would be in darkness. Governments and empires come and go, but we have kept mankind safe since time immemorial. We are the last defense against evil. An evil that the rest of mankind has no idea even exists.” *Makin merasa bingung?

Well, meskipun markas mereka bersifat rahasia, namun bila Anda cukup dekat, Anda bisa mendengar seruan-seruan aneh di malam hari, dan bahkan di tempat minum ternyaman di dunia Anda bisa melihat sosok mereka setelah mereka selesai bekerja. (Meski salah satu seperempat dari mereka bisa menggunakan kekuatannya untuk menggelapkan area, dan satu lagi memburamkan wilayah, namun kadangkala pertahanan ini bisa luntur apabila anggota mereka yang lain bertindak di luar kewajaran ataupun membiarkan jangkrik bersuara dan biskuit digigit akibat perkataannya).

Begitulah, hal ini dimulai semenjak Komitmen Tiga Puluh Satu November diungkapkan, dan usulan membentuk Kamp Konsentrasi pun dicetuskan oleh seniman pointilisme (a.k.a Chiell) ini. Selanjutnya langkah-langkah nyata dilakukan, dan sejak itu para pejuang rahasia ini bersumpah tidak akan melepaskan puasa sebelum mengalahkan Nusantara, eh maksudnya tidak akan merasakan keduniawian sebelum Februari tergenggam di tangan (halah). Meski pada awalnya banyak rintangan menghadang, namun kelompok ini akhirnya berteguh di jalannya setelah berhasil menghasut penganggu mereka agar tidak lagi membawa kartu dan bermain dengan spray pengharum ruangan, hihihi.

Tapi jangan Anda kira mereka tidak serius. Apa yang mereka tampakkan sebagai orang “normal” di tempat umum maupun di studio musik mereka hanyalah ilusi. Kini ‘hasil sistem yang dibuat berhasil’ dikembangkan dan berhasil lolos pemeriksaan terperinci dari para ilmuwan hebat (beberapa akibat sistem tambahan konvensional yang melibatkan pengucapan tiga kali kata tertentu). Dan juga, mereka akhirnya dapat mewujudkan tujuan asli mereka, menyumbangkan suara membantu paduan suara dalam Hymne Gadjah Mada.

*Saya juga bingung dengan cerita ini, bahkan apakah ini bisa disebut cerita pun juga belum jelas, tapi untuk berkata bahwa ini cerita atau bukan tentunya perlu penyelidikan lebih jauh tentang apakah definisi cerita itu*. Yang pasti, yang terpenting adalah pengalaman dan proses mencapai tujuan, dan itu ditentukan oleh keberanian kita untuk mewujudkan mimpi kita. Karena mimpi-mimpi kita adalah hal yang berharga untuk diperjuangkan, dan mimpi menunjukkan bahwa kita bukanlah entitas kosong yang hanya bisa hidup.

Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan, bukan cuma seonggok daging yang hanya punya nama… Dan kamu nggak perlu bukti apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nantinya karena kamu hanya harus mempercayainya.[2]

[0] Lagu “Totalitas Perjuangan.”

[1] Publius Vergilius Maro.

[2] Donny Dhirgantoro, 5 cm.

9 thoughts on “Vivat Academia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s